Doa dalam Sudut Pandang Kristiani
Doa dalam fungsi nyata dalam
kehidupan manusia terkadang hanya dianggap sbagai semacam pelengkap dalam
kehidupan dan juga hanya sebagai tempat pelarian ketika tidak mau menerima sebuaa
kenyataan pahit. Lalu timbul pertanyaan siapa yang dapat kita temui dalam doa?.
Timbul jawaban ialah Allah, jadi secara sistematis kita harus terlebih mengenal
dulu siapa itu Allah sebelum kita
bertemu di dalam doa yang kita lantunkan.
Doa dalam pandangan rohani merupakan
berjuang bersama Tuhan, yang artinya berjuang ialah kita menyampaikan sesuatu
dalam doa dan juga kita harus berjuang mewejudkannya sembari menunggu kuasa
Tuhan untuk menggenapi atas usaha yang telah kita lakukan. Tidak ada doa kalau
tidak dimulai dengan mengakui Allah
sebagai Allah, yang artinya kita berdoa bukanlah menganggap Tuhan Allah sebagai
“teman sebaya” yang mana kita meminta seenaknya apa yang kita mau. Melainkan
ketika menghadap Allah dalam doa harus benar-benar memposisikan Allah secara
total di atas kehidupan manusia.
Posisi doa dalam pandangan teologis
ialah ditempatkan dalam lingkup luas teologi secara keseluruhan melalui
sistematis dan benar-benar direfleksikan dalam ilmu teologi. Artian teologi
merupakan refleksi iman, ketika doa harus diwujudkan dalam refleksi iman maka
dikenal metode “dialog” dalam doa. Ketika perwujudan dialog diaplikasikan dalam
doa, tidak menutup kemungkinan pernyataan ekspresi, sapaan, tawaran hubungan
pribadi terjadi layaknya seperti dialog sehari-hari bersama Allah di dalam doa
yang dinyatakan.
Disinilah terletak sudut pandang
kristiani bagaimana sebenarnya peran teologi/ Ilmu mengenai Allah menjelaskan
dan menghubungkan tentang doa serta merefleksikannya dalam kehidupan manusia.
Para teolog-teolog memiliki peran penting dalam menyumbangkan ilmunya, karena
doa itu harus mulai dalam teologi dalam diri sendiri. Maksud dari teologi diri
sendiri merupakan setiap individu-individu harus mampu membangun dan
menyusun mengenai Allah itu sendiri
sebagai panutan dalam diri sendiri sehingga timbullah pemikiran-pemikiran
tentang teologi yang didasarkan oleh sifat-sifat Allah.
Maka, teologi tidak hanya
merefleksikan doa dan tidak hanya
dikembangkan melalui doa. Ini menjelaskan doa dan teologi saling membutuhkan,
karena tanpa doa, teologi hanya sebuah ilmu yang berpusat dengan filsafat dan
ilmu agama, sedangkan tanpa teologi, doa hanya didasarkan kepuasan dan
keinginan diri sendiri tanpa memikirkan tentang Allah itu sendiri.
Namun, doa bukanlah teologi meskipun
terjadi kait-mengait seperti yang telah dijabarkan, pokok yang dirasakan dalam
doa itu sendiri ialah kehadiran Tuhan. Disinilah terletak peranan dan pemahaman
teologi diperlukan, karena manusia tak akan mengerti dan merasakan kehadiran
Tuhan dan siapa yang hadir itu tanpa
tahu siapa itu Allah yang hadir dan berkuasa dalam kehidupan manusia termasuk
dalam doa-doa.
Teologi juga menyumbangkan pemahaman
akan karya Allah, sehingga dapat membantu merasakan kehadiran Roh dengan lebih sadar.
Kesimpulan yang dapat kita tarik dari
sudut pandang kristiani ialah Doa merupakan satu kebutuhan pertanggungjawaban
yang akan dibuktikan dengan kenyataan dalam hidup, seperti rutinitas
doa,seperti dalam penjabaran tadi peranan pengetahuan dalam teologi unuk
memahami siapa itu Allah dan bagaimana merasakan kehadiran Allah itu sendiri
dalam doa. Diperlukan juga kedisiplinan iman setiap individu kristiani untuk
tegh berpegang pada pengharapan akan Allah dalam doa, sehingga manfaat dan
pengharapan yang diungkapkan dalam doa menjadi sutu kenyataan yang
membahagiakan bagi setiap umat kristiani yang berharap..
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar