Kamis, 01 Oktober 2015

Doa dalam Sudut Pandang Kristiani


Doa dalam Sudut Pandang Kristiani
           Doa dalam fungsi nyata dalam kehidupan manusia terkadang hanya dianggap sbagai semacam pelengkap dalam kehidupan dan juga hanya sebagai tempat pelarian ketika tidak mau menerima sebuaa kenyataan pahit. Lalu timbul pertanyaan siapa yang dapat kita temui dalam doa?. Timbul jawaban ialah Allah, jadi secara sistematis kita harus terlebih mengenal dulu siapa itu Allah  sebelum kita bertemu di dalam doa yang kita lantunkan.
           Doa dalam pandangan rohani merupakan berjuang bersama Tuhan, yang artinya berjuang ialah kita menyampaikan sesuatu dalam doa dan juga kita harus berjuang mewejudkannya sembari menunggu kuasa Tuhan untuk menggenapi atas usaha yang telah kita lakukan. Tidak ada doa kalau tidak dimulai dengan mengakui  Allah sebagai Allah, yang artinya kita berdoa bukanlah menganggap Tuhan Allah sebagai “teman sebaya” yang mana kita meminta seenaknya apa yang kita mau. Melainkan ketika menghadap Allah dalam doa harus benar-benar memposisikan Allah secara total di atas kehidupan manusia.
           Posisi doa dalam pandangan teologis ialah ditempatkan dalam lingkup luas teologi secara keseluruhan melalui sistematis dan benar-benar direfleksikan dalam ilmu teologi. Artian teologi merupakan refleksi iman, ketika doa harus diwujudkan dalam refleksi iman maka dikenal metode “dialog” dalam doa. Ketika perwujudan dialog diaplikasikan dalam doa, tidak menutup kemungkinan pernyataan ekspresi, sapaan, tawaran hubungan pribadi terjadi layaknya seperti dialog sehari-hari bersama Allah di dalam doa yang dinyatakan.
           Disinilah terletak sudut pandang kristiani bagaimana sebenarnya peran teologi/ Ilmu mengenai Allah menjelaskan dan menghubungkan tentang doa serta merefleksikannya dalam kehidupan manusia. Para teolog-teolog memiliki peran penting dalam menyumbangkan ilmunya, karena doa itu harus mulai dalam teologi dalam diri sendiri. Maksud dari teologi diri sendiri merupakan setiap individu-individu harus mampu membangun dan menyusun  mengenai Allah itu sendiri sebagai panutan dalam diri sendiri sehingga timbullah pemikiran-pemikiran tentang teologi yang didasarkan oleh sifat-sifat Allah.
           Maka, teologi tidak hanya merefleksikan  doa dan tidak hanya dikembangkan melalui doa. Ini menjelaskan doa dan teologi saling membutuhkan, karena tanpa doa, teologi hanya sebuah ilmu yang berpusat dengan filsafat dan ilmu agama, sedangkan tanpa teologi, doa hanya didasarkan kepuasan dan keinginan diri sendiri tanpa memikirkan tentang Allah itu sendiri.
           Namun, doa bukanlah teologi meskipun terjadi kait-mengait seperti yang telah dijabarkan, pokok yang dirasakan dalam doa itu sendiri ialah kehadiran Tuhan. Disinilah terletak peranan dan pemahaman teologi diperlukan, karena manusia tak akan mengerti dan merasakan kehadiran Tuhan  dan siapa yang hadir itu tanpa tahu siapa itu Allah yang hadir dan berkuasa dalam kehidupan manusia termasuk dalam doa-doa.
           Teologi juga menyumbangkan pemahaman akan karya Allah, sehingga dapat membantu merasakan kehadiran Roh  dengan lebih sadar.
           Kesimpulan yang dapat kita tarik dari sudut pandang kristiani ialah Doa merupakan satu kebutuhan pertanggungjawaban yang akan dibuktikan dengan kenyataan dalam hidup, seperti rutinitas doa,seperti dalam penjabaran tadi peranan pengetahuan dalam teologi unuk memahami siapa itu Allah dan bagaimana merasakan kehadiran Allah itu sendiri dalam doa. Diperlukan juga kedisiplinan iman setiap individu kristiani untuk tegh berpegang pada pengharapan akan Allah dalam doa, sehingga manfaat dan pengharapan yang diungkapkan dalam doa menjadi sutu kenyataan yang membahagiakan bagi setiap umat kristiani yang berharap..


           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar