Kamis, 26 November 2015

Karunia Roh

Karunia Roh
Ketika kita ingin mulai memahami arti dari Roh Kudus, maka kita mulai juga dengan pengertian kata “roh”, berasal dari kata Yunani  pneuma  dan dalam bahasa Ibrani adalah ruakh. Artinya ialah udara yang bergerak bebas untuk menghidupkan atau di sebut tanda kehidupan. Roh yang sejati berbeda dengan ide manusia tentang roh yang kasat mata, namun Allah ialah Roh. Sehingga dalam artian ini roh yang sesungguhnya pribadi, individu yang bebas. Maka dari itu Tuhan yang setelah bangkit dari orang mati menjadi roh, sehingga menjadi pribadi yang bebas.
Berbicara tentang pekerjaan Roh Kudus dalam diri manusia, mari kita melihat pada alkitab dari 1 Korintus 12:3 “Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang dapat engaku “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus”. Artinya, iman kepada Yesus sebagai Tuhan berhubungan erat dengan pekerjaan Roh Kudus.
            Satu hal yang dapat dipelajari  bahwa Pentakosta adalah batas akhir dari masa kerja Kristus dan awal dari masa kerja Roh Kudus. Jadi, Roh Kudus tidak lain adalah kehadiran Kristus secara baru dalam dunia, yang artinya Kristus yang mengkaruniakan Roh Kudus kepada umat-Nya. Dalam konteks Perjanjian Baru Kristus adalah subjek pemberi Roh Kudus, sehingga Ia melalui Roh Kudus bekerja dalam setiap orang percaya sekalipun kini ia di sorga.
            Ketika Alkitab berkata-kata tentang kehidupan baru di setiap kehidupan, Alkitab menegaskan jika seseorang tidak memiliki Roh Kudus, ia tidak mempunyai bagian dalam Kristus (Roma 8:9). Ini berlaku bag dup dalam Roh, hidup dalam pemerintahan baru, dalam orde keselamatan. Setiap orang yang memiliki bagian dalam Kristus,ia hidup dalam kekuasaan Roh, dalam orde keselamatan.Perilaku dan cara hidup dalam orde yang lama ditinggalkan. Sebagai gantinya, ia menghasilkan buah-buah Roh (Galatia 5)
            Jadi, dalam Roh, kasih Kristus menjadi dasar dan akar dari hidup sehingga hal inilah menjadi dasar orang percaya dibangun. Hal ini disebut juga tanda anugerah Allah dimana pembenaran akan setiap hidup manusia adalah karya Allah yang tertinggi bagi manusia. Dalam setiap aspek yang mendasar dan penting yang berlaku dalam pekerjaan Kristus dan Roh Kudus untuk membaharui kehidupan manusia.
            Banyak orang berpikir bahwa “manusia baru akan menjadi seperti malaikat”, namun iu merupakan pemikiran yang salah. Manusia baru tetaplah manusia, Ia tidak berubah menjadi malaikat yang kebal terhadap kemungkinan salah dan berdosa. Namun perbedaannya manusia baru dengan manusia yang berdosa lainnya ialah terletak pada kesadaran akan melakukan dosa tersebut dan berusaha untuk memperbaiki dan hidup dengan cara benar, sedangkan manusia belum hidup baru, ketika melakukan dosa dan merasa bahagia hidup dalam lumpur dosa.      
            Dalam kehidupan sekarang  jemaat sudah seharusnya hidup dewasa dalam Kristus. Dewasa yang berarti bukan lagi anak-anak dalam Kristus, tetapi dewasa dalam kepenuhan Kristus yang berdiam dalam diri. Dalam artian jemaat tetap dalam keadaan sebagai manusia, tetapi makin menjadi manusia baru. Semua hal lain, hal sekunder dan hal kedua seperti bahasa lidah, karunia penyembuhan dan lain-lain boleh berlalu serta bisa saja tidak dimiliki jemaat, tetapi yang utama yakni iman, pengharapan, dan kasih harus ada dalam setiap manusia baru.
            Berbicara tentang curahan Roh Kudus merupakan hal penting, karena ini diperlukan dalam kelanjutan pekerjaan Allah di dunia dan setipa manusia hendaknya bertumbuh dalam kekudusan, Roh kudus melengkapi setiap orang-rang percaya dengan karunia-karunia khusus, contohnya pelayanan dan kharisma. Hal-hal ini bukan merupakan hal primer, karunia khusus ini semacam simbolis dan semacam aliran manusia yang harus di keluarkan dari kungkungan gelap dan memiliki tugas untuk berbicara tentang hal besar pekerjaan Allah sehingga manusia lain memahaminya
            Hal pencurahan Roh Kudus ini menjadi semacam persatuan dan semangat bagi orang percaya agar bersama-sama melakukan pekerjaan besar bagi kemuliaan Allah. Hal pemberian simbolis dari roh kudus ini diibaratkan seperti anggota tubuh, yang mana banyak anggota tubuh dengan satu tubuh. Yang artinya tiap-tiap orang diberikan hal-hal atau simbolis dari Roh Kudus secara berbeda-beda dengn tujuan untuk embangun satu tujuan memuliakan nama Allah.
            Tidak ada yang bisa mengatur pekerjaan Roh kudus, dalam hal ini ditekankan Roh akn mencurahkan pemberiannya terjadi dengan sendirinya, tanpa diharapkan atau dipersiapkan. Hal ini juga tergantung kehendak Allah berdasarkan persesuaian dengan iman kepada Yesus Kristus. Melihat masa sekarang nubuat berangsur-angsur digantikan dengan karunia-karunia seperti guru penginjil, dan penilik jemaat. Dari hal ini kita belajar bahwa Roh Kudus tidak bekerja dalam satu sistem statis atau tetap, namun ini merupakan kelanutan pekerjaan Allah di dunia.      
            Pemberian Roh Kudus tidak terletak dalam kekuasaan dan kehebatan manusia, banyak orang sepanjang hidupnya menunjukkan kualitas sebagai anggota tubuh Kristus, tetapi tidak memiliki karunia-karunia istimewa itu. Dalam memahami karya Roh Kudus kita tidak boleh berpikiran sempit, bahkan karunia-karunia Roh Kudus lebh banyak dan lebih luas demi kemuliaan Allah.
            Jadi kita dapat berkesimpulan ada rupa-rupa karunia, tetapi satu roh. Meskipun semua karunia berasal dari roh yang sama, tetapi ada karunia yang menjadi kunci untuk mengarahkan dan memberi makna pada karunia yang beraneka ragam itu. Karunia berbicara dalam bahasa roh ternyata tidak termasuk pada karunia kunci itu. Dibanding dengan mengajar, karunia bahasa roh kurang penting bagi jemaat.
            Paulus mendorong setiap orang percaya untuk berdoa agar Tuhan mengaruniakan karunia yang sebenarnya adalah karunia kasih, karena kasih adalah karunia yang tertinggi, paling utama dan paling kekal. Karunia yang eraneka ragamnya bisa saja berakhir, namun kasih tidak akan pernah berakhir, kasih dapat menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung sesuatu (1 Korintus 13 4-7)
            Dengan kata lain kita tidak perlu berebutan memperoleh karunia bahasa roh, lebih baik kita berusaha mendapatkan kasih dalam hati kita. Jika kita sudah dapat mengasihi Allah, sesama dan alam. Janganlah membuang kasih atau menukarnya dengan karunia lain, hanya rang bodoh saja yang ingin menggantikan kasih dengan karunia lain.

            Pada saat kita mengaku percaya kepada Yesus sebagai Tuhan, kita sesungguhnya sedang hidup oleh kuasa dan anugerah Roh Kudus. Kita tidak perlu lagi berjerih lelah untuk menerima baptisan Roh. Maskipun begitu, karena kita telah hidup oleh kuasa dan anugerah Roh Kudus, baiklah kita memberi diri untuk terus menerus dipimpin oleh Roh itu (Galatia 5:25)

Selasa, 24 November 2015

Rasul Paulus Sang Misionaris

Rasul Paulus Sang Misionaris
I.          Pendahuluan
Pada materi ini akan dibahas kehidupan rasul Paulus, yang mana sudah terbukti penginjilannya ke sluruh dunia. Bagaimana dia mengenal Tuhan dengan cara yang luar biasa hingga perobatan dan menjadi penginjil kepada setiap orang yang percaya dan belum percaya tentang firman Tuhan. Semoga tugas ini mampu menambah wawasan.
II.       Pembahasan
2.1.     Masa Kecil Paulus
Kelahiran Paulus kira-kira lahir dua tahun sesudah Yesus Kristus. Ia dilahirkan di Tarsus, sebuah kota yang terkemuka zaman itu di wilayah Kilikia. Tarsus terletak hanya 1,2 km dari Laut Tengah. Oleh karena itu, Tarsus menjadi kota pusat perdagangan.Dilahirkan di Tarsus daerah Kilikia, sebuah pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan Yunani. Ayahnya berasal dari suku Benyamin dan termasuk golongan orang Yahudi peranakan, yang juga di negeri asing menaati hukum taurat Taurat Yahudi dengan cermat. Ia berasal dari sebuah keluarga Yahudi yang berbahasa Aram dan kaya. Sewaktu lahir Paulus diberi nama dalam bahasa Ibrani Saul. Sejak kecil, ia belajar bahasa Yunani yang meupakan bahasa utama di daerah Tarsus. Ketika berumur 15 tahun. Ia diperkirakan datang ke Yerusalem dan menjadi pengikut seorang yang giat dari golongan kaum farisi.
2.2.       Paulus dan Yahudi
 Saulus atau Paulus Muda pindah ke Yerusalem untuk belajar dan menjalin akses ke kalangan elite di kota-kota Yunani dan Romawi. Status sosial Paulus yang kaya memberi penjelasan bahwa Paulus menjalin relasi ke pemimpin-pemimpin wilayah, seperti wilayah Efesus dan Gubernur Siprus, Sergius Paulus.
 Bahasa yang digunakan rasul Paulus ialah bahasa Ibrani karena ia dibesarkan dalam keluarga Yahudi yang taat beribadah, namun tidak menutup kemungkinan ia dapat berbahasa  Yunani. Surat-suratnya menunjukkan bahwa Paulus belajar Taurat dari sudut pandang orang Farisi di bawah bimbingan Rabi Gamaliel serta menerima pendidikan retorika dasar (Yunani) di sekolah Yahudi-Helenistik di Yerusalem.
Paulus sendiri tidak pernah menyebut pengaruh-pengaruh Yunani atau kafir, tetapi membuat banyak pernyataan tentang latar belakang serta pendidikan Yahudinya. Ia bangga  kan kenyataan ia seorang Farisi yang baik. Kalau kita membaca surat-surat Paulus yang ditulisnya sebagai seoranelas ia tetap mempertahankan kepercayaan-kepercayaan terbaik yang diterima dari guru-gurunya. Salah satu saingan utama dari kaum Farisi adalah kaum Saduki. Kedua golongan tersebut masing-masing mewakili sayap liberal dan konservatif dari agama Yahudi. Pada setiap pokok pertikaian antara kedua golongan tersebut, Paulus mengutip dan sering memperbaiki pendirian kaum Farisi. 
 Kaum Farisi percaya sejarah mempunyai maksud dan tujuan. Mereka berpendapat Allah mengatur peristiwa-peristiwa menurut rencana-Nya sendiri, yang mencapai titik puncaknya dengan kedatangan sang Mesias yang akan memimpin umat-Nya. Ini sesuatu yang dapat diterima dengan baik oleh Paulus sebagai seorang Kristen.
Dalam Roma 9-11 ia mengemukakan Allah mengatur jalannya sejarah dengan tujuan agar pada akhirnya orang-orang Yahudi diikutsertakan dalam persekutuan Kristen. Paulus berpikir sebagai seorang Farisi yang baik walaupun dia melangkah lebih jauh, sebab ia tahu Mesias telah datang dalam pribadiYesus Kristus. 
Kaum Farisi percaya akan hidup setelah kematian. Paulus menekankan hal tersebut demi keuntungannya sendiri ketika dia diadili di hadapan Sanhedrin (Kisah Para Rasul 23:6-10) dan Herodes Agripa II (Kisah Para Rasul 26:6-8). Tetapi sebagai seorang Kristen, Paulus melangkah lebih jauh lagi. Ia yakin bahwa tidak seorang pun dapat menjamin adanya kebangkitan lepas dari kenyataan bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari kematian. 

 Kaum Farisi percaya akan malaikat-malaikat dan setan-setan. Kaum Saduki tidak percaya akan hal-hal tersebut. Di sini juga Paulus mempertahankan kepercayaannya sebagai seorang Farisi tetapi mengubahnya dalam terang Kristus. Di salib, Kristus telah menaklukkan kuasa-kuasa jahat. Oleh sebab itu, orang-orang Kristen "lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita" (Roma 8:37). Tidak seorang malaikat pun dapat menyaingi Tuhan yang telah bangkit, yang dilayani Paulus, dan yang di dalam-Nya "seluruh kepenuhan Allah berkenan diam" (Kolose 1:19). 

2.3.   Paulus dan Penganiayaan Orang Kristen
Saulus atau Paulus Muda menganiaya pengikut Kristus di Yerusalem dan beberapa tempat-tempat lain di seluruh Yudea, dengan alasan pemberitaan tentang Yesus dipandang tercela dan sesat di tambah Saulus telah memahami jauh berdasarkan pengajaran  Farisi bagaiaman pemahaman farisi yang mebenci Yesus dan ajarannya. Sehingga secara otomatis Saulus akan melawan para pengikut Yesus dengan agresif agar aktivitas yang berhubungan seputar ajaran Yesus berhenti.
Paulus pada umur tiga puluh tahun sudah diserahi jabatan pimpinan untuk menganiaya orang Kristen. Sehingga ada dugaan pada masa itu Paulus juga ikut menyiksa penginjil Kristen termasuk Stefanus. Paulus atau Saulus sungguh-sungguh fanatik dan bergairah mempertahanan paham Farisi serta hatinya berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan.
     Paulus menjadi pemimpin di antara orang Yahudi. Para pemimpin yang lebih tua mundur dan membiarkan kesempatan kepada Paulus menjadi pimpinan pasukan untuk menghancurkan kekristenan. Paulus sendiri menggambarkan tindakannya yang melawan kekristenan ini dengan berkata: "Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati.
Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota- kota asing." (Kisah Para Rasul 26:10,11) Paulus adalah seorang yang taat kepada agama Yahudi dan dia merasa bahwa apa yang dia lakukan itu benar. Ini terjadi sebelum ia mengalami kasih dan anugerah dari Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus.
Paulus telah membuat namanya ditakuti di antara semua orang Kristen di Yerusalem. Dia telah berhasil memisahkan atau membungkam banyak orang Kristen di kota suci itu. Kemudian, ia mendapat laporan tentang adanya kelompok besar orang Kristen di kota Damsyik. Kota Damsyik, kira-kira 240 km jauhnya dari Yerusalem. Dia memutuskan untuk pergi ke sana untuk melanjutkan penganiayaannya kepada orang- orang percaya ini. Dia telah diberi kekuasaan penuh dan membawa surat izin untuk memasuki kota dan menangkap semua orang Kristen di kota itu dan membawa mereka kembali dalam keadaan terbelenggu ke Yerusalem.
Paulus dan kawan-kawan memulai perjalanan yang panjang menuju Damsyik. Perjalanan ini membutuhkan waktu enam sampai tujuh hari dan selama perjalanan panjang ini anak muda yang pandai dan penuh semangat ini mempunyai banyak waktu untuk berpikir. Mungkin ia mulai meragukan tindakannya. Dia tidak habis berpikir dan tidak mengerti bagaimana Stefanus bisa mati dengan begitu tenangnya. Dia tidak dapat melupakan doa Stefanus ketika Stefanus "menutup mata" dengan damai. Paulus merasa bahwa dia harus melakukan hal yang ia pandang benar, tetapi dia terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya. Oleh karena itu, ia pun pergi ke Damsyik. 
2.4.    Pertobatan Paulus[10]
Ketika Saulus menempuh perjalanan dari Yerusalem ke Damsyik, ibu kota lama Siria tempat ia ingin menangkap orang yang percaya kepada Yesus, lalu tiba-tiba Paulus  mengalami perjumpaan  dengan Yesus. Berita tentang kedatangan Paulus telah sampai ke Damsyik sebelum ia tiba di sana. Pertobatan Paulus terjadi ketika ia mendekati kota itu. Pada waktu tengah hari, tiba-tiba sebuah cahaya yang membutakan mata bersinar mengelilingi Paulus dan teman-temannya. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah suatu suara berkata kepadanya, "Saul, Saul mengapa engkau menganiaya Aku?" Jawab Saulus: "Siapakah engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kau aniaya itu.
Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kau perbuat." (Kisah Para Rasul 9:4-6) Paulus berdiri dari tanah dan mendapati dirinya buta. Beberapa anak buahnya menuntun dia dan membawanya ke Damsyik. Selama tiga hari lamanya dia tidak dapat melihat dan tidak makan ataupun minum. Pengalaman ini mengubah Paulus sepenuhnya. Sekarang orang Farisi yang sombong ini berubah menjadi seorang yang kesakitan, gemetar, meraba-raba dan bergantung pada tangan orang lain yang menuntunnya sampai ia tiba di Damsyik.
Setelah Paulus tiba di Damsyik dalam keadaan buta akibat kilau cahaya ketika Yesus menyatakan dirinya, lalu ada seorang Kristen yang bernama Ananias menemui Paulus yang baru tiba di Damsyik  untuk menyatakan firman Tuhan kepada Paulus agar memberitakan Nama-Nya ke seluruh dunia (Kis. 22:12-16).
Setelah di Damsyik menerima kabar dari Ananias untuk menyebarkan berita injil, dengan segera Paulus kembali ke daerah Siria dan Kilkia. Lalu melanjutkan perjalanan Ke Yerusalem dan di tempat itulah bertemu dengan  Barnabas seorang rasul. Lalu Paulus diperkenalkan kepada rasul-rasul di Yerusalem, sehingga Paulus ikut juga dalam kegiatan misi bersama-sama dengan rasul-rasul di Yerusalem. Paulus selanjutnya dengan segera mengerjakan misi selanjutnya pergi ke Damsyik dan berkhotbah tentang Yesus, sehingga dengan segera Paulus mulai di kenal di kalangan para rasul.
2.5.    Perjalanan Misionaris Pertama
Mereka berlayar ke Seleukia dan berjalan sepanjang 110 kilometer ke Salamis, di pantai timur Siprus. Siprus adalah rumah lama Barnabas. Pada masa itu Siprus merupakan pusat pernigaan dan perhubungan. Para penginjil ini mengunjungi tempat-tempat penting di pulau Siprus sampai akhirnya mereka tiba di Pafos. Di Pafos mereka bertemu dua orang terkemuka, yaitu seorang tukang sihir yang bernama Elimus Baryesus dan Sergius Paulus yang menjadi gubernur pulau itu. Sergius Paulus memanggil Barnabas dan Paulus sebab ia ingin mendengar Firman Tuhan.
 Ketika para penginjil itu berusaha memenangkan Sergius Paulus bagi Kristus, Elimus berusaha menghalang-halangi mereka. Akhirnya, Paulus menantang "anak iblis" ini dan membuat mata orang itu buta untuk beberapa saat. Melihat apa yang terjadi, Sergius Paulus merasa sangat takjub dan percaya ajaran Tuhan.
2.6.      Perjalanan Misionaris Kedua
Paulus dan kawan-kawannya sekarang meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia. Di sana Yohanes Markus meninggalkan kelompok ini dan kembali ke rumahnya di Yerusalem. Paulus dan Barnabas meneruskan perjalanannya ke Antiokia (di Pisidia). Di Antiokia Paulus pergi ke rumah ibadah dan memberitakan Firman Tuhan di sana. Pemberitaan itu membuat orang-orang di sana takjub dan mereka memintanya berkhotbah lagi. Bacalah Firman Tuhan yang diberitakan Paulus di dalam Kisah Para Rasul 13:14-42. Pada hari Sabat berikutnya, Paulus berkhotbah lagi dan hampir seluruh kota itu berkumpul bersama-sama untuk mendengar Firman Tuhan. Hal ini membuat jengkel orang-orang Yahudi di sana.
Mereka merasa iri dan mulai membantah apa yang dikatakan Paulus. Namun, Paulus berkata bahwa kepada merekalah Firman Tuhan pertama kali diberitakan. Namun karena mereka menolaknya, Paulus dan Barnabas berpaling kepada bangsa-bangsa lain. Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan Firman Tuhan dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Lalu, Firman Tuhan tersiar di seluruh daerah itu. Kisah Para Rasul 13:48-49. Injil Allah mulai masuk di hati bangsa- bangsa lain. 
Namun sebaliknya, orang Yahudi berbalik melawan Paulus dan Barnabas dan mengusir mereka dari kota.Kira-kira, 120 kilometer di sebelah tenggara Antiokia terdapat sebuah kota yang bernama Ikonium. Paulus dan Barnabas langsung pergi ke tempat ibadah memberitakan Firman Tuhan di sana. Banyak orang menjadi percaya dan menerima Kristus. Namun, ada juga musuh- musuh di sana.
Para Rasul memperlihatkan banyak tanda-tanda dan mujizat dan tinggal lama di sana untuk memberitakan Firman Tuhan. Akhirnya, musuh-musuh itu membentuk suatu kelompok massa dan mengancam untuk membunuh para pengabar Injil ini. Akibatnya, Paulus dan Barnabas terpaksa harus menyingkir dari kota itu. 
Paulus dan kawan-kawannya sekarang meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia. Di sana Yohanes Markus meninggalkan kelompok ini dan kembali ke rumahnya di Yerusalem. Paulus dan Barnabas meneruskan perjalanannya ke Antiokia (di Pisidia). Di Antiokia Paulus pergi ke rumah ibadah dan memberitakan Firman Tuhan di sana. Pemberitaan itu membuat orang-orang di sana takjub dan mereka memintanya berkhotbah lagi. ( Kisah Para Rasul 13:14-42.) 
Pada hari Sabat berikutnya, Paulus berkhotbah lagi dan hampir seluruh kota itu berkumpul bersama-sama untuk mendengar Firman Tuhan. Hal ini membuat jengkel orang-orang Yahudi di sana. Mereka merasa iri dan mulai membantah apa yang dikatakan Paulus. Namun, Paulus berkata bahwa kepada merekalah Firman Tuhan pertama kali diberitakan. Namun karena mereka menolaknya, Paulus dan Barnabas berpaling kepada bangsa-bangsa lain.
Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan Firman Tuhan dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Lalu, Firman Tuhan tersiar di seluruh daerah itu. Kisah Para Rasul 13:48-49. Injil Allah mulai masuk di hati bangsa- bangsa lain. 
Namun sebaliknya, orang Yahudi berbalik melawan Paulus dan Barnabas dan mengusir mereka dari kota. Kira-kira, 120 kilometer di sebelah tenggara Antiokia terdapat sebuah kota yang bernama Ikonium. Paulus dan Barnabas langsung pergi ke tempat ibadah memberitakan Firman Tuhan di sana. Banyak orang menjadi percaya dan menerima Kristus. Namun, ada juga musuh- musuh di sana. Para Rasul memperlihatkan banyak tanda-tanda dan mujizat dan tinggal lama di sana untuk memberitakan Firman Tuhan. Akhirnya, musuh-musuh itu membentuk suatu kelompok massa dan mengancam untuk membunuh para pengabar Injil ini. Akibatnya, Paulus dan Barnabas terpaksa harus menyingkir dari kota itu. 
2.7.         Perjalanan Paulus ke Eropa
Paulus pergi menuju Benua Eropa melewati Asia Kecil dengan ditemani Silas dan Timotius. Di sini Paulus mendirikan sebuah jemaat yang hampir secara keseluruhan terdiri dari orang Kristen yang berasal dar golongan kafir. Di Tesalonika Paulus tidak dapat melanjutkan persebaran injilnya akibat digugat oleh pimpinan kota, sehingga dengan berat hati Paulus dan teman seperjalanannya merasa sedih akibat peristiwa penghalangan persebaran injil ini.
Perjalanan misionrisnya dilanjutkan ke Galatia dan di daerah tersebut mereka tinggal di rumah Akwila dan Priskila. Di Galatia Paulus banyak mempertobatkan beberapa orang Yahudi dan orang kafir, terutama di masyarakat rendahan. Di Galatia Paulus sempat dituduh sebagai penyebar agama yang melawan hukum. Selanjutnya Paulus dan rasul lainnya pergi menuju Anthiokia.
2.8.         Perjalanan Misionaris Ketiga
Paulus berangkat untuk perjalanan misionarisnya yang ketiga, yang dilakukan melintasi Asia Kecil menuju Efesus.  Pemberitaan itu membuat orang-orang di sana takjub dan mereka memintanya berkhotbah lagi. Bacalah Firman Tuhan yang diberitakan Paulus di dalam Kisah Para Rasul 13:14-42. Pada hari Sabat berikutnya, Paulus berkhotbah lagi dan hampir seluruh kota itu berkumpul bersama-sama untuk mendengar Firman Tuhan.
Hal ini membuat kesal orang-orang Yahudi di sana. Mereka merasa iri dan mulai membantah apa yang dikatakan Paulus. Namun, Paulus berkata bahwa kepada merekalah Firman Tuhan pertama kali diberitakan. Namun karena mereka menolaknya, Paulus dan Barnabas berpaling kepada bangsa-bangsa lain. Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan Firman Tuhan dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Lalu, Firman Tuhan tersiar di seluruh daerah itu. Kisah Para Rasul 13:48-49. Injil Allah mulai masuk di hati bangsa- bangsa lain. 
Namun sebaliknya, orang Yahudi berbalik melawan Paulus dan Barnabas dan mengusir mereka dari kota. Kira-kira, 120 kilometer di sebelah tenggara Antiokia terdapat sebuah kota yang bernama Ikonium. Paulus dan Barnabas langsung pergi ke tempat ibadah memberitakan Firman Tuhan di sana. Banyak orang menjadi percaya dan menerima Kristus.
 Namun, ada juga musuh- musuh di sana. Para Rasul memperlihatkan banyak tanda-tanda dan mujizat dan tinggal lama di sana untuk memberitakan Firman Tuhan. Akhirnya, musuh-musuh itu membentuk suatu kelompok massa dan mengancam untuk membunuh para pengabar Injil ini. Akibatnya, Paulus dan Barnabas terpaksa harus menyingkir dari kota itu. 
 Di daerah ini Paulus tinggal selama tiga tahun dan di sini hanya melakukan pekerjaan besar dan penting menyebarkan kabar baik dari Tuhan. Di sini Paulus menulis surat kepada jemaat di Galatia dan surat pertama kepada jemaat di Korintus. Paulus akhirnya terpaksa pergi di daerah ini akibat pengerjaran dari sekelompok orang.
2.9.          Perjalanan Misionaris di Yerusalem
Paulus bertolak ke Yerusalem beserta Barnabas, Titus, dan yang lain-lain. Mereka melalui jalan dari Sidon dan Tirus, sesudah itu membelok ke arah selatan sampai ke Samaria dan hingga Yerusalem. Di Yerusalem orang-orang menerima Paulus dengan gembira. Paulus dan Barnabas tampak sangat senang menceritakan segala pengalaman mereka.
Namun, orang farisi di Yerusalem tidak setuju dengan perbuatan Paulus dan Barnabas, mereka berpendapat orang-orang Yahudi yang mau mengikut Yesus harus disunat terlebih dahulu. Paulus dibawa ke Prokurator Feliks di Kaiserea dengan penjagaan kuat. Di sinilah Paulus tinggal selama dua tahun dalam penjara. Setelah naik banding Paulus akhirnya dipindahkan ke Roma, dan di sinilah Paulus menulis  yang disebut surat-surat penjara, yaitu: Efesus, Kolose, Filemon, dan Filipi.
Selanjutnya setelah perjalanan Paulus ke daerah-daerah Asia Kecil, Eropa, dan beberapa tempat di Listra dan Derbe. Paulus juga menulis surat-surat untuk daerah-daerah yang pernah di datanginya untuk mengabarkan injil.
2.9.1.    Surat Kepada Jemaat di Galatia
   Paulus menulis surat ini  untuk menggambarkan pertobatan dan panggilannya untuk melakukan pelayanan misi secara lebih luas. Paulus menceritakan panggilan Allah dan di bentuk menjadi juru bicara Allah untuk memberitakan firman keselamatan Allah kepada bangsa-bangsa. Paulus juga menekankan kepada jemaat-jemaat di Galatia agar memeprcayai iman Kristus dan juga harus membandingkan ajaran-ajaran yang yang berbeda dari Injil Allah. Paulus juga menemui masalah karena di sini jemaat-jemaat di Galatia masih percaya dengan hukum taurat, sehingga mengabaikan kelahiran Yesus sebagai kelahiran baru yang harus di percaya dan diimani.
Paulus menekankan  bahwa orang non-Yahudi tidak perlu menjadi orang Yahudi sebelum mereka diterima oleh Allah sebagai pengikut Mesias. Di sinilah menekankan bahwa Allah mempunyai kasih karunia dan kemurahan-Nya mengampuni dosa orang berdosa secara cuma-cuma, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi.
2.9.2.      Surat Kepada Jemaat di Makedonia: Tesalonika dan Filipi
Paulus menulis tiga surat kepada jemat yang ia dirikan di Provinsi Makedonia. Ia menulis dua surat kepada jemaat di Tesalonika (pada 50 M). Dan satu surat kepada jemaat di Filipi (57 M). Pada surat kepada jemaat di Tesalonika Paulus sangat menyadari pentingnya kontak awal dengan penduduk di sebuah kota baru. Paulus juga menekankan bahwa Allah itu hanya satu kepada jemaat di Tesalonika, dan mengingatkan bahwa ilah-ilah tradisonal harus ditinggalkan kepada jemaat di Tesalonika.
Di sini Paulus menjuhkan dirinya dari penipuan, keicikan dan keserakahan sebagai motivasi pemberitaan misinya, dan ia menekankan fokusnya bukan pada dirinya sendiri melainkan pada Allah. Dari sini Paulus belajar bahwa sebagai seorang misionaris harus dikontrol oleh sifat Injil dan megabaikan sifat duniawi dan keinginan diri sendiri.
2.9.3.      Surat Kepada Jemaat di Akhaya: Korintus
Dalam suratnya Paulus menekanan persatuan dalam gereja, karena melihat masalah dalam jemaat di Korintus ialah membentuk blok-blok pada jemaat akibat perpecahan karena terlalu memilih guru jemaat serta para pengkhotbah. Isi dalam suratnya mejeaskan bahwa Paulus menjadikan dirinya seorang hamba dan Allah ialah atasan dalam pekerjaan misi dan pekerjaan Allah.
Paulus menjelaskan bahwa Allah lah yang memiliki ladang tersebut bukan para guru jemaat, jadi Paulus menekankan untuk bersatu dan menghimbau jangan terjadi lagi perpecahan karena Allah telah menyediakan gereja untuk bersekutu dan melayani bukan untuk membentuk perpecahan. Paulus juga menceritakan dalam suratnya bahwa dirinya telah dimenangkan oleh Allah dari maut, sehingga Paulus merasa berutang kepada Allah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang tersesat untuk kembali ke jalan Tuhan, sehingga Paulus menyerahkan sepenuh hidupnya untuk menjadi seorang rasul dalam kuasa Allah
2.9.4.      Surat Kepada Jemaat di Roma
Paulus dalam suratnya kepada kota Roma dapat disebut juga dokumen misi, karena Paulus mempersiapkan dirinya dan jemaat di Roma untuk pekerjaaan misi ke Spanyol yang direncanakan pada 57 M. Paulus menjelaskan misi di kota Roma untuk berfokus pada pertobatan orang tanpa memandang dimana mereka tinggal atau siapa mereka, sehingga pekerjaan misi saling bergantung pada komunitas Kristen. Dengan harapan pada surat ini  Paulus sebagai seorang misionaris yang hendak melakukan perjalanan ke Spanyol mengundang masyrakat kota Roma memahami surat teologisnya.
Pesan yang disampaikan oleh Paulus bukan hanya teori saja namun berhubungan dengan realitas hidup sehari-hari, sehingga pekerjaan misi selalu memperhitungkan situasi khusus pendengarnya. Paulus juga menekankan kasih kepada setiap manusia, karena pekerjaan misi tidak akan tersampaikan ketika tidak didasari oleh kasih layaknya kasih Allah pada manusia.
2.9.5.      Surat Kepada Jemaat di Asia: Kolose dan Efesus
Paulus menulis dua surat kepada jemaat di Provinsi Asia: kepada jemaat di Kolose dan orang percaya di Efesus. Kedua surat ini mungkin ditulis pada 60 M ketika ia dipenjara di Roma. Paulus dalam suratnya menjelaskan sebagai Rasul merupakan jalan penderitaan yang indah, seperti halnya Yesus selama menjalankan misi-Nya. Penderitaan merupakan akibat pekerjaan misi yang wajar dan tak terhindarkan. Kegiatan misi adalah pekerjaan berat dan sering kali melibatkan pergumulan. Paulus  menceritakan sebagai penginjil menuntut perhatian sepenuhnya dan seluruh energi.
Paulus juga menjelaskan bahwa orang Kristen di Kolose mengalami kemajuan dalam hal iman dan kasih. Paulus juga menjelaskan tentang rahasia Allah yang tidak dapat di jangkau sehingga di sinilah Paulus meletakkan dasar pengharapan kepada setiap gereja sebagai salah satu perwujudan rahasia Allah. Paulus tidak lupa bahwa setiap orang percaya diberikan kuasa menaklukkan hal penyembahan berhala serta melawan kuasa gelap ketika percaya akan kuasa Allah.
2.9.6.      Surat Kepada Rekan Sekerja: Timotius dan Titus
Paulus menulis surat ini kepada Timotius sahabat karibnya, terlebih Timotius menghadapi berbagai kesulitan di masa mudanya pada umur 35 tahun. Dalam masa itu juga banyak pengajar-pengajar sesat, yang berpegang teguh kepada silsilah kuno dan bermacam-macam dongeng lama. Sehingga Paulus menguatkan Timotius dalam suratnya tersebut.
Paulus memberi pengarahan kepada Timotius untuk memastikan bahwa sikap orang percaya di gereja-gereja di Asia Kecil mendukung penyebaran injil. Timotius lebih diarahkan untuk mengajar para guru di gereja-gereja untuk memastikan pelayanan mereka mengenalkan komitmen yang penuh diantara orang Kristen satu sama lain. Paulus menjelaskan bahwa setiap orang Kristen harus mendoakan semua orang, terkhusus pemimpin-pemimpin negara.
Kepada Titus, Paulus menjelaskan bahwa setiap perempuan-perempuan tua harus mendukung persebaran Injil, serta kepada budak-budak yang telah percaya untuk selalu menerapkan Injil dalam pekerjaannya. Serta selalu tulus dan setia dalam perkerjaannya terhadap hambanya, dan juga budak boleh memberitakan Injil kepada sekitarnya dengan cara hidup yang sesuai dengan perintah Tuhan.
2.9.7.      Surat Paulus kepada Filemon
Surat ini ditulis oleh Paulus berdasarkan kisah pertemuan antara Paulus dan Onesimus. Onesimus adalah seorang hamba Kristen yang terkemuka di Kolose, namun dia lari dari tuannya dulu dan pergi ke Roma. Di Roma Paulus  dan Onesimus berjumpa, sehingga Paulus membuat Onesimus bertobat.Paulus lalu menyuruh Onesimus kembali ke tuannya yang dulu, namun Onesimus menolak dengan alasan takut Filemon memarahi dia.
Dari hal inilah Paulus membuat surat kepadanya sebagai surat keterangan mengenai Onesimus. Paulus menyebut Onesimus anaknya yang didapatnya selagi ia dalam penjara.
Paulus juga meminta dengan sangat, supaya Filemon jangan berlaku keras terhadap Onesimus, jangan memandang dia sebagai seorang hamba lagi, tetapi sebagai seorang saudara yang kekasih.

2.10.        Akhir hidup Paulus
Paulus menggambarkan masa mendatang tampak kemurtadan, kelemahan iman, dan semakin dekat dengan akhir zaman semakin dekat pula godaan dalam jemaat. Paulus menuliskan kata perpisahan, karena dia sendiri merasa kematiannya sudah  dekat. Dalam masa dekat akhir hidupnya Paulus merasa sendiri karena banyak yang meninggalkan dirinya dan murtad dari injil.
Isi surat yang terakhir ini adalah suatu panduan dari ungkapan perasaan pribadi dan kebijaksanaan kepemimpinan gereja, yang berupa kenangan dan perintah, kesedihan, dan keyakinan. Tujuan utamanya adalah untuk memperteguh Timotius untuk menerima tugas berat yang dalam waktu dekat akan dilepaskan oleh Paulus. Ia menguraikan pola penggembalaan jemaat dengan pertama-tama mengingatkan Timotius akan pengalaman pribadinya, dan dengan mengikutsertakan ia di dalamnya, "Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri" (2 Timotius 1:9).
Berdasarkan panggilan ini, ia mendorong Timotius untuk menerima segala kesulitan seperti seorang prajurit yang maju berperang (2:3), dengan memasrahkan perencanaan strategi pada pimpinannya, dan mengabdi dengan sepenuh hati dan tanpa pernah mengeluh di mana pun tenaganya dibutuhkan. Dalam kehidupan pribadi dan dalam hubungan kemasyarakatan dengan jemaat ia harus berlaku sebagai hamba Tuhan, tidak suka berselisih tetapi selalu siap untuk membantu semua orang memahami kebenaran Tuhan.
Gambaran tentang hari-hari terakhir, seperti paragraf yang serupa dalam 1Timotius 4:1-3, adalah serangkaian ramalan yang melukiskan ciri-ciri dari keadaan yang kelak akan dihadapi gereja. Perisai yang dirumuskan Paulus untuk menahan arus kefasikan adalah pengetahuan akan Kitab Suci "yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus" (2Timotius 3:15).Perintah terakhir (4:1-6) adalah suatu karya yang indah, dan harus dipelajari dengan seksama oleh setiap  penginjil.
Waktu pembelaan Paulus pertama kali dimuka pengadilan, tidak ada seorangpun yang datang membantu dia. Hingga akhirnya  Paulus mati dibunuh dengan pedang oleh kaisar Nero. Seorang Bapa Gereja yang bernama Eusebius mengatakan bahwa pada zamannya masih kedapatan kubural Rasul Paulus di “Via Ostentis” (Jalan ke Ostia) di Roma.

III.             Kesimpulan
Setelah melihat kisah masa kecil Paulus yang merupakan gambaran dari anak yang berasal dari keluarga Yahudi yang sangat taat dengan hukum taurat, dan juga menjadi pimpinan kaum Farisi yang sangat benci dengan ajaran Yesus dan juga para rasul atau murid yang memberitakan injil ke seluruh bangsa. Namun, Tuhan berencana lain dengan memberikan pelajaran yang membuat diri seorang  Paulus yang membenci Yesus dan sekarang menjadi seorang rasul.
Bukan menjadi rasul biasa saja, namun Paulus menjadi salah satu Rasul yang menjadi popular di kalangan para rasul-rasul lain dan bakan menjadi penyemangat bagi para pemberita injil masa sekarang yang. Paulus juga menjadi penulis 13 surat yang dikanonkan termasuk dalam kitab perjanjian baru dan termasuk menai catatan sejarah bagaimana pengorbanan para martir dalam memberitakan firman Tuhan.

IV.             Daftar Pustaka
Adi S, Lukas. , Smart Book of Christianity, (Yogyakarta:ANDI, 2012)
Bavinck, J.H., Sejarah Kerajaan Allah 2,(Jakarta:BPK-GM, 2015)
Drane, John, Memahami Perjanjian Baru, ( Jakarta: BPK-GM, 1996),  
G. Gromacki, Robert  , New Testament Survey, (Michigan: Baker Book House, 1989),
  J. Schnabel, Eckhard, Rasul Paulus sang Misionaris, (Yogyakarta:ANDI, 2010)
Jacobs, Tom, RASUL PAULUS, (Yogyakarta: Kanisius, 1984)
 M. Baugh, Steven, Paul The Apostle, (Coroline:University of California, 1990)
Paus Benediktus XVI, The Apostles, (Yogyakarta: Kanisius, 2015),
Sanders, E.P., Paul and Palestinian Judaism, (Philadelphia: Fortress Press, 1977),    
Merrill C. Tenney, Survei Perjanjian Baru, (Gandum Mas: Malang, 1995),  
Charles Ludwig , Kota-kota Pada Zaman Baru, (Kalam Hidup: Bandung, 1975),
Peter T. O’Brien, Philemon, (Waco:Word, 1982), 87-88
Paul Barnett, Paul Missionary of Jesus,(Michigan: Eerdmans Publishing, 2008),  







Sabtu, 24 Oktober 2015

Menjadi “Tetangga Yang Baik” dalam Beragama

Menjadi “Tetangga Yang Baik” dalam Beragama

            Suatu kata yang unik ketika mendengar Tetangga Yang Baik dimunculkan dalam hidup beragama, berbicara mengenai tetangga dalam kehidupan masyarakat Indonesia merupakan pendamping dalam hidup bermasyarakat. Dalam tradisi masyarakat Indonesia tetangga menjadi kunci penting dalam bermasyarakat, ketika tetangga menjadi penopang dalam kehidupan, bahkan tetangga dapat menjadi saudara dalam masyarakat.
            Ketika berbicara beragama, melihat situasi kehidupan beragama di Indonesia yang sangat majemuk. Bahkan ketika melihat keberagaman beragama di bumi pertiwi ini tidak heran menjadikan Indonesia sebuah percontohan bagi negara-negara lain. Bagaimana keberagaman bukan menjadi penghalang agama-agama untuk berbaur bahkan saling menopang satu sama lain.
            Jika melihat ke dalam unsur beragama, agama dapat menjadi simpul erat yang memeperkuat nasionalisme bangsa. Bagaimana tidak di Indonesia terjalinnya hidup dalam bermasyarakat jika tidak didasari akan kesadaran toleransi beragama akan merusak tatanan masyarakat atau bahkan mengganggu jalannya kehidupan nasionalisme yang telah di tanamkan oleh para leluhur bangsa ini.
            Mengingat pada waktu perumusan pancasila terjadi pertentangan dengan kata “syariat Islam” , membuat beberapa pejuang-pejuang dari timur menguslkan perubahan. Di sini tampak leluhur pejuang-pejuang bangsa terdahulu tidak memiliki sifat egoistis dan ingin menang agamanya menang sendiri. Jelas dari dulu Indonesia bukti nyata sebuah keberagaman yang saling menghargai.
            Berbicara kepelbagaian dan pluralitas beragama mengingatkan kita semua pada konsep bangsa Indonesia yaitu “Bhineka Tunggal Ika” yang jika ditelusuri berasal dari bahasa agama Hindu yaitu “Bhina Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa” yang artinya berbeda-beda dia, tetapi satu adanya, tak ada ajaran yang menduakannya. Melihat ucapan Mpu Tantular yang memberikan sebuah kata “Bhineka Tunggal Ika” berarti dapat diambil kesimpulan bahwa jalan menuju Tuhan bisa berbeda, tetapi yang dituju satu adanya dan tidak ada ajaran (agama) yang menduakan dan membedekannya.
            Dari sebuah semboyan bangsa Indonesia ini kita sebagai umat beragama merefleksikan bahwa usaha membangun kerukunan dan kepelbagaian itu telah dimulai oleh para pejuang-pejuang serta leluhur bangsa Indonesia terdahulu. Maka dari sebuah pekerjaan rumah yang wajib dilakukan tiap-tiap agama membangun spirit nasionalisme dalam konteks beragam agama. Yang dimaksud setiap agama sudah seharusnya membenahi infrastruktur dalam menjiwai keberagaman demi nasionalsme, ini bukan lagi kegiatan tuduh-menuduh untuk membangun nasionalisme tetapi sebuah gerakan nyata dari tiap-tiap agama.
            Kita tentunya tidak menutup mata melihat terjadinya konflik Tolikara serta Aceh Singkil bahkan secara global melihat konflik Israel-Palestina. Ini menjadi sebuah dilema keberagaman, bagaimana tidak di negara Indonesia yang menurut survey tingkat kerukunan dan toleransinya mencapai angka 86,8%. Ini jelas menjadi sebuah pertanyaan apa pemicu terjadinya konflik di wilayah Indonesia yang majemuk ini.
            Membahas tentang konflik, setiap wilayah yang di tempati oleh berbagai-bagai manusia yang tidak memiliki pandangan dan pemikiran yang sama. Jelas tidak terlepas dari namanya konflik, namun konflik tersebut seharusnya tidak terjadi secara berkesinambungan. Ini membutuhkan manajemen serta pemahaman mendalam apa yang terjadi dalam konflik tersebut baru kita mengerti bagaimana mengatasi sebuah konflik beragama.
“Tak ada asap maka tak ada api” jelas pepatah ini menggambarkan  konflik yang terjadi di tengah kepelbagaian agama, di sini yang pertama beban sejarah agama itu sendiri. Yang dimaksud melihat konteks konflik Israel-Palestina jelas ini berawal dari perebutan wilayah yang terjadi secara turun temurun di tambah konflik lama yang terjadi antara umat beragama Yahudi dan Islam yang telah lama.
Penyebab tejadinya konflik yang kedua ialah provokasi, provokasi benar-benar merusak sendi-sendi kedamaian, bagaimana tidak melihat konteks konflik Aceh Singkil baru-baru ini semua orang tidak akan percaya, melihat keberagaman dalam bangsa Indonesia telah lama berlangsung tanpa terjadi konflik. Bahkan Mesjid dan Gereja saling berdampingan tanpa konflik. Nyata bahwa ada campur tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab membangun kedamaian dan nasionalime di Indonesia ini.
Penyebab yang ketiga ialah campur tangan pihak penguasa, setiap agama akan rusak fungsinya ketika telah “ditunggangi” oleh pihak penguasa pemerintahan atau bahkan dijadikan alat berpolitisasi mempertahankan status quo  pihak penguasa. Benar menjadi sebuah perusak perdamaian agama, ketika sebuah agama membela satu pihak dan mengabaikan unsur netral yang seharusnya diemban sebuah agama. Agama hakikatnya penengah bukan menadi alat dukungan politik.
Penyebab-penyebab yang telah dipaparkan tadi menjadi sebuah antisipasi umat beragama, dan sekarang bagaimana cara konkret menjadi “Tetengga Yang Baik” dalam beragama. Yang pertama harus dilakukan agama dan penganut agama tersebut ialah menghilangkan sifat egoistis dan tertutup (eksklusivisme). Di sini yang dimaksud adalah setiap agama harus rela membuang sifat ingin menang sendiri serta tidak mau berbaur atau bahkan bertukar pemikiran dengan agama yang lain.
Yang kedua ialah menjunjung tinggi kerukunan yang sejati dan menjadikan kerukunan ialah sebuah keharusan. Yang dimaksudkan ialah masing-masing agama mengedepankan perdamaian dan kepentingan demi sebuah kerukunan, serta kerukunan tersebut bukan menjadi sebuah paksaan di tengah keberagaman. Namun menjadi sebuah keharusan, mengapa menjadi sebuah keharusan karena  tanpa kerukunan sebuah indahnya keberagaman agama akan rusak ketika kerukunan dipaksakan bukan datang dari keikhlasan hati menjaga sebuah kerukunan tersebut
Yang ketiga ialah memahami tiap agama dan keunikan pluralisme, dimaksudkan memahami ialah mengerti keberagaman agama tersebut namun bukan harus meyakini agama tersebut. Di sinilah terkadang orang salah mengerti ketika kita paham tiap-tiap agama, kita akan lebih bertoleransi dengan doktrin dan agama tersebut tanpa kita harus yakin dan ikut doktri atau ajaran agama tersebut. Banyak konflik terjadi karena sedikitnya pemahaman tentang agama lain, maka dari sedikitnya pemahaman akan timbul prasangka atau dugaan-dugaan yang buruk dengan agama tersebut.
Tindakan nyata yang terakhir sehingga dapat menjadi “Tetangga Yang Baik” dalam beragama ialah memiliki integritas dan kecerasan dalam beragama. Dalam hal integritas, sebagai umat beragama yang berintegritas harus melepaskan fanatisme terhadap doktrin agama, karena itulah pemicu rusaknya harmonisasi beragama. Sedangkan kecerdasan yang dimaksud ialah kecerasan dalam hal memfilter apapun pembicaraan ataupun berita-berita yang menyudutkan suatu agama, karena dengan kita memiliki kecerasan beragama yang rendah makaakan lebih mudah dipengaruhi dan dirusak pemikiran akan indahnya kepelbagaian agama
Sehingga setelah berbicara luas tentang agama dan “Tetangga Yang Baik” dlam hal beragama, sampailah pada sebuah perenungan bahwa menjadi Tetangga dalam hal beragama, kita tidak perlu memaksakan lingkungan beragama untuk masuk dan menghayati agama kita. Namun cukup dengan kita memberikan sebuah pertolongan atas dasar kemanusiaan, memberikan pemikiran yang menolong. Dapat dikatakan kita telah menjadi “Tetangga Yang Baik” dalam kemajemukan beragama.

           

            

Selasa, 13 Oktober 2015

Belajar Sebuah Pengampunan

Sebuah Pengampunan
            Pengampunan sesuatu yang awam bagi yang belum pernah merasakan apa itu terluka ataupun disakiti, jelas terluka karena dendam ataupun disakiti akibat peristiwa masa lalu membentuk sebuah dendam dalam lubuk hati. Berbicara tentang pengampunan tidak pas jika belum membahas dendam dan penolakan akan diri sendiri serta lingkungan.
            Membahas dendam kita tak perlu menutup mata, setiap dari kita ataupun seseorang yang kita anggap suci pernah merasakan apa itu mendendam. Dendam merupakan perasaan kesal, iri, dengki, serta muak akan seseorang ataupun situasi yang menekan diri kita ataupun secara tidak langsung membuat diri kita  malu di depan khalayak ramai. Dari perasaan-perasaan yang menekan pribadi kita itulah timbul  dendam yang mungkin ada yang tidak menyadarinya namun merasa ada yang mengganjal dalam hati. Dalam konteks Alkitabiah, kisah Kain dan Habel (Kejadian 4:1-6) begitu nyata bahwa dendam itu berasal dari iri hati dan dengki terhadap teman, sahabat, atau bahkan saudara dekat yang telah kita anggap sebagai kehormatan.
            Berbicara tentang penolakan diri serta lingkungan sebagian orang akan bingung, apa yang ditolak atupun siapa yang menolak. Dalam konteks sosial, penolakan berarti menghambat ataupun tidak menyetujui hadirnya atau adanya sesuatu, sehingga penolakan diri sendiri artinya individual merasa tidak nyaman atau bahkan menghujat kekurangan yang terdapat dalam diri, atau bahkan lebih ke arah perubahan yang dilakukan secara terpaksa akibat penolakan yang terjadi dalam diri sendiri.
            Membahas penolakan terhadap lingkungan, individu merasa tertekan akibat lingkungan yang dianggapnya suci atau bahkan lingkungan yang dianggapnya anti kotor ternyata di luar ekspetasi individu tersebut, sehingga mulailah terjadi penolakan dengan melakukan serangkaian pemberontakan, menghujat, atau bahkan menghancurkan lingkungan tersebut. Efek kepada individual pun besar, lingkungan dapat menekan personal yang merasa tertekan. Sehingga timbullah depresi, kebingungan arah hidup, dan juga kebimbangan terhadap masa depan di lingkungan tersebut.
            Setelah paham bagaimana dendam dan penolakan terhadap diri sendiri, di sinilah fungsi dan letak pentingnya sebuah pengampunan. Ketika tadi telah membahas apa itu dendam, di sini dendam layaknya kotoran yang berat dan bau, di situlah kita melihat dendam dengan efeknya ketika dendam itu di simpan sehingga dapat menimbulkan efek bau. Efek bau yang dimaksud terlihat dari sikap inividu yang mendendam kepada orang yang dibencinya. Ambil Contoh ketika kita dendam dengan orang, kita merasa sinis dan risih ketika berada di dekat orang tersebut atau bahkan berniat membalas dendam tersebu dengan melakukan kekerasan.
            Ketika hal-hal negatif  pada efek dendam itu terjadi, maka dendam layaknya kanker yang merusak tubuh serta jiwa. Dampak kepada diri sendiri ketika kita mendendam dapat berupa sakit berkepanjangan, depresi atau bahkan gangguan kejiwaan. Tak jarang orang yang menyimpan dendam dalam hatinya dapat diganggu oleh roh-roh jahat, sehingga menimbulkan manifestasi karena kelanjutan dari dendam ialah akar pahit yang menyebabkan gangguan-gangguan roh. Karena roh jahat begitu senang datang dan berdiam dalam hati yang pendendam.
            Berbicara penolakan diri sendiri dan lingkungan seperti yang telah dijelaskan, efek yang benar-benar terasa tak jauh beda dengan dendam hati yaitu depresi. Namun yang berbeda dari dendam ialah merasa terkucil terhadap diri sendiri dengan lingkungan, terkucil artinya merasa rendah melihat diri sendiri. Efek kelanjutannya ialah kehilangan kendali diri karena merasa rendah sehingga datanglah si jahat untuk mengendalikan pikiran individu yang merasa ditolak.
            Begitu jelas terasa efek dan dampak dari dendam dan penolakan terhadap diri sendiri, sehingga pengampunan  merupakan sebuah penawaran menarik bagi setiap jiwa-jiwa yang mendendan dan menolak berkat.Tuhan. Pilihan mengampuni musuh/ lawan merupakan sebuah kemerdekaan hidup yang nyata, di sebut kemerdekaan karena dendam merupakan belenggu jiwa dari kebebasan merasakan cinta kasih Allah dari setiap orang, sehingga mengampuni merupakan pilihan perubahan bagi hidup yang terbelenggu kea rah yang lebih damai.
            Inti dari pengampunan ialah keterbukaan dan toleransi terhadap sikap yang membuat kta dendam dan benci. Ketika kita coba berlogika tentang orang yang pendendam, bagaimana orang yang mendendam dapat menjadi depresi karena benci terhadap orang yang dibencinya, sedangkan orang yang dibencinya tidak merasakan apa-apa atau bahkan orang yang dibencinya itu dapat bertumbuh dan berkembang. Jelas di posisi pendendam menambah satu lagi pelajaran bagaimana mendendam dapat menghambat pertumbuhan iman dan jiwa orang,
            Sebuah omong kosong belakang ketika seseorang berbicara “waktu dapat menyembuhkan dendam”.. Waktu tak dapat menyembuhkan pergumulan dendam bahkan ketika dibiarkan bersama sang waktu yang berputar, dendam itu akan diam namun bertumpuk dan larut sehingga memenuhi seluruh pikiran dan selanjutnya akan menjadi depresi dan gangguan kejiwaan. Butuh sebuah tindakan kerendahan diri atau bahkan kepasrahan akan pengampunan dan biarkanlah Tuhan coba memulihkan hati serta pikiran  sehingga kondisi akan kembali seperti semula.
            Berbicara mengampuni memang berat namun dalam (2 Korintus 2:10) “ Sebab barangsiapa yang kamu ampuni kesalahannya, aku mengampuninya juga. Sebab jika aku mengampuni, - seandainya ada yang harus kuampuni-, maka hal itu kubuat oleh karena kamu dihadapan Kristus, . Jelas meskipun sulit di sini Rasul Paulus mengajarkan mengmpuni karena kita semua berada di hadapan Kristus.
            Ketika diri merasakan penolakan yang benar-benar harus dilakukan ialah bersyukur, dalam (Kolose 3:15) “ Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan Bersyukurlah.”. Jelas ketika kita mencoba bersyukur diatas semua kekurangan dan terhadap tekanan diri sendiri di situlah Yesus dengan damai sejahtera bekerja dalam membuat rancangan terindah dalam setiap diri manusia asal setiap  manusia mencoba mensyukuri berkat Tuhan.
            Belajar dari Sebuah Pengampunan akan disimpulkan bagaimana Tips-tips Mengampuni:
1)      Libatkan Tuhan dalam setiap perencanaan, apapun itu termasuk meminta Tuhan membukakan pintu dendam agar kuasa Tuhan bekerja dalam menjalankan sebuah pengampunan.
2)      Daftarkan rasa dendam yang pernah melukai hati anda dan tuliskan pada sebuah kertas
3)      Ingat bagaimana perasaan anda saat emosi atau menyimpan dendam itu, sehingga akan kembali berpikir ke depan untuk menjadi lebih baik kea rah keterbukaan akan pengampunan.
4)      Ingat bakarlah/ buanglah daftar rasa dendam itu dan berjanji/ bertekad menjadi pengikut Kristus harus mencoba belajar mengampuni seperti layaknya Rasul Paulus ataupun Yesus sendiri

5)      Berdoa akan kesembuhan emosi, maksudnya minta Tuhan memulihkan hati yang hancur dan bersyukur atas semua keadaan sehingga timbullah pemikiran akan menjadikan pengikut Kristus merupakan pribadi yang mengampuni.