Rasul Paulus Sang Misionaris
I.
Pendahuluan
Pada materi ini akan
dibahas kehidupan rasul Paulus, yang mana sudah terbukti penginjilannya ke
sluruh dunia. Bagaimana dia mengenal Tuhan dengan cara yang luar biasa hingga
perobatan dan menjadi penginjil kepada setiap orang yang percaya dan belum
percaya tentang firman Tuhan. Semoga tugas ini mampu menambah wawasan.
II.
Pembahasan
2.1.
Masa
Kecil Paulus
Kelahiran Paulus kira-kira lahir dua tahun
sesudah Yesus Kristus. Ia dilahirkan di Tarsus, sebuah kota yang terkemuka
zaman itu di wilayah Kilikia. Tarsus terletak hanya 1,2 km dari Laut Tengah.
Oleh karena itu, Tarsus menjadi kota pusat perdagangan.Dilahirkan
di Tarsus daerah Kilikia, sebuah pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan Yunani. Ayahnya
berasal dari suku Benyamin dan termasuk golongan orang Yahudi peranakan, yang
juga di negeri asing menaati hukum taurat Taurat Yahudi dengan cermat. Ia
berasal dari sebuah keluarga Yahudi yang berbahasa Aram dan kaya. Sewaktu lahir
Paulus diberi nama dalam bahasa Ibrani Saul.
Sejak kecil, ia belajar bahasa Yunani yang meupakan bahasa utama di daerah
Tarsus. Ketika berumur 15 tahun. Ia diperkirakan datang ke Yerusalem dan
menjadi pengikut seorang yang giat dari golongan kaum farisi.
2.2.
Paulus dan Yahudi
Saulus atau Paulus Muda pindah ke Yerusalem
untuk belajar dan menjalin akses ke kalangan elite di kota-kota Yunani dan
Romawi. Status sosial Paulus yang kaya memberi penjelasan bahwa Paulus menjalin
relasi ke pemimpin-pemimpin wilayah, seperti wilayah Efesus dan Gubernur
Siprus, Sergius Paulus.
Bahasa yang digunakan rasul Paulus ialah
bahasa Ibrani karena ia dibesarkan dalam keluarga Yahudi yang taat beribadah,
namun tidak menutup kemungkinan ia dapat berbahasa Yunani. Surat-suratnya menunjukkan bahwa
Paulus belajar Taurat dari sudut pandang orang Farisi di bawah bimbingan Rabi
Gamaliel serta menerima pendidikan retorika dasar (Yunani) di sekolah
Yahudi-Helenistik di Yerusalem.
Paulus sendiri tidak pernah menyebut
pengaruh-pengaruh Yunani atau kafir, tetapi membuat banyak pernyataan tentang
latar belakang serta pendidikan Yahudinya. Ia bangga kan
kenyataan ia seorang Farisi yang baik. Kalau kita membaca surat-surat Paulus
yang ditulisnya sebagai seoranelas ia tetap mempertahankan
kepercayaan-kepercayaan terbaik yang diterima dari guru-gurunya. Salah satu
saingan utama dari kaum Farisi adalah kaum Saduki. Kedua golongan tersebut
masing-masing mewakili sayap liberal dan konservatif dari agama Yahudi. Pada
setiap pokok pertikaian antara kedua golongan tersebut, Paulus mengutip dan
sering memperbaiki pendirian kaum Farisi.
Kaum Farisi percaya
sejarah mempunyai maksud dan tujuan. Mereka berpendapat Allah mengatur
peristiwa-peristiwa menurut rencana-Nya sendiri, yang mencapai titik puncaknya
dengan kedatangan sang Mesias yang akan memimpin umat-Nya. Ini sesuatu yang
dapat diterima dengan baik oleh Paulus sebagai seorang Kristen.
Dalam
Roma 9-11 ia mengemukakan Allah mengatur jalannya sejarah dengan tujuan agar
pada akhirnya orang-orang Yahudi diikutsertakan dalam persekutuan Kristen.
Paulus berpikir sebagai seorang Farisi yang baik walaupun dia melangkah lebih
jauh, sebab ia tahu Mesias telah datang dalam pribadiYesus Kristus.
Kaum
Farisi percaya akan hidup setelah kematian. Paulus menekankan hal tersebut demi
keuntungannya sendiri ketika dia diadili di hadapan Sanhedrin (Kisah Para Rasul
23:6-10) dan Herodes Agripa II (Kisah Para Rasul 26:6-8). Tetapi sebagai
seorang Kristen, Paulus melangkah lebih jauh lagi. Ia yakin bahwa tidak seorang
pun dapat menjamin adanya kebangkitan lepas dari kenyataan bahwa Yesus Kristus
telah bangkit dari kematian.
Kaum Farisi percaya akan
malaikat-malaikat dan setan-setan. Kaum Saduki tidak percaya akan hal-hal
tersebut. Di sini juga Paulus mempertahankan kepercayaannya sebagai seorang
Farisi tetapi mengubahnya dalam terang Kristus. Di salib, Kristus telah
menaklukkan kuasa-kuasa jahat. Oleh sebab itu, orang-orang Kristen "lebih
daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita"
(Roma 8:37). Tidak seorang malaikat pun dapat menyaingi Tuhan yang telah
bangkit, yang dilayani Paulus, dan yang di dalam-Nya "seluruh kepenuhan
Allah berkenan diam" (Kolose 1:19).
2.3.
Paulus
dan Penganiayaan Orang Kristen
Saulus atau Paulus Muda
menganiaya pengikut Kristus di Yerusalem dan beberapa tempat-tempat lain di
seluruh Yudea, dengan alasan pemberitaan tentang Yesus dipandang tercela dan
sesat di tambah Saulus telah memahami jauh berdasarkan pengajaran Farisi bagaiaman pemahaman farisi yang
mebenci Yesus dan ajarannya. Sehingga secara otomatis Saulus akan melawan para
pengikut Yesus dengan agresif agar aktivitas yang berhubungan seputar ajaran
Yesus berhenti.
Paulus pada umur tiga
puluh tahun sudah diserahi jabatan pimpinan untuk menganiaya orang Kristen.
Sehingga ada dugaan pada masa itu Paulus juga ikut menyiksa penginjil Kristen
termasuk Stefanus. Paulus atau Saulus sungguh-sungguh fanatik dan bergairah
mempertahanan paham Farisi serta hatinya berkobar-kobar untuk mengancam dan
membunuh murid-murid Tuhan.
Paulus menjadi pemimpin di antara orang
Yahudi. Para pemimpin yang lebih tua mundur dan membiarkan kesempatan kepada
Paulus menjadi pimpinan pasukan untuk menghancurkan kekristenan. Paulus sendiri
menggambarkan tindakannya yang melawan kekristenan ini dengan berkata:
"Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan
banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari
imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati.
Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa
mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang
meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota- kota asing."
(Kisah Para Rasul 26:10,11) Paulus adalah seorang yang taat kepada agama Yahudi
dan dia merasa bahwa apa yang dia lakukan itu benar. Ini terjadi sebelum ia
mengalami kasih dan anugerah dari Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus.
Paulus
telah membuat namanya ditakuti di antara semua orang Kristen di Yerusalem. Dia
telah berhasil memisahkan atau membungkam banyak orang Kristen di kota suci
itu. Kemudian, ia mendapat laporan tentang adanya kelompok besar orang Kristen
di kota Damsyik. Kota Damsyik, kira-kira 240 km jauhnya dari Yerusalem. Dia
memutuskan untuk pergi ke sana untuk melanjutkan penganiayaannya kepada orang-
orang percaya ini. Dia telah diberi kekuasaan penuh dan membawa surat izin
untuk memasuki kota dan menangkap semua orang Kristen di kota itu dan membawa
mereka kembali dalam keadaan terbelenggu ke Yerusalem.
Paulus
dan kawan-kawan memulai perjalanan yang panjang menuju Damsyik. Perjalanan ini
membutuhkan waktu enam sampai tujuh hari dan selama perjalanan panjang ini anak
muda yang pandai dan penuh semangat ini mempunyai banyak waktu untuk berpikir.
Mungkin ia mulai meragukan tindakannya. Dia tidak habis berpikir dan tidak
mengerti bagaimana Stefanus bisa mati dengan begitu tenangnya. Dia tidak dapat
melupakan doa Stefanus ketika Stefanus "menutup mata" dengan damai.
Paulus merasa bahwa dia harus melakukan hal yang ia pandang benar, tetapi dia
terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya. Oleh karena
itu, ia pun pergi ke Damsyik.
Ketika
Saulus menempuh perjalanan dari Yerusalem ke Damsyik, ibu kota lama Siria
tempat ia ingin menangkap orang yang percaya kepada Yesus, lalu tiba-tiba
Paulus mengalami perjumpaan dengan Yesus. Berita tentang kedatangan
Paulus telah sampai ke Damsyik sebelum ia tiba di sana. Pertobatan Paulus
terjadi ketika ia mendekati kota itu. Pada waktu tengah hari, tiba-tiba sebuah
cahaya yang membutakan mata bersinar mengelilingi Paulus dan teman-temannya. Ia
rebah ke tanah dan kedengaranlah suatu suara berkata kepadanya, "Saul,
Saul mengapa engkau menganiaya Aku?" Jawab Saulus: "Siapakah engkau,
Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kau aniaya itu.
Tetapi
bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang
harus kau perbuat." (Kisah Para Rasul 9:4-6) Paulus berdiri dari tanah dan
mendapati dirinya buta. Beberapa anak buahnya menuntun dia dan membawanya ke
Damsyik. Selama tiga hari lamanya dia tidak dapat melihat dan tidak makan
ataupun minum. Pengalaman ini mengubah Paulus sepenuhnya. Sekarang orang Farisi
yang sombong ini berubah menjadi seorang yang kesakitan, gemetar, meraba-raba
dan bergantung pada tangan orang lain yang menuntunnya sampai ia tiba di
Damsyik.
Setelah
Paulus tiba di Damsyik dalam keadaan buta akibat kilau cahaya ketika Yesus
menyatakan dirinya, lalu ada seorang Kristen yang bernama Ananias menemui Paulus yang baru tiba di Damsyik untuk menyatakan firman Tuhan kepada Paulus
agar memberitakan Nama-Nya ke seluruh dunia (Kis. 22:12-16).
Setelah
di Damsyik menerima kabar dari Ananias untuk menyebarkan berita injil, dengan
segera Paulus kembali ke daerah Siria dan Kilkia. Lalu melanjutkan perjalanan
Ke Yerusalem dan di tempat itulah bertemu dengan Barnabas seorang rasul. Lalu Paulus diperkenalkan
kepada rasul-rasul di Yerusalem, sehingga Paulus ikut juga dalam kegiatan misi
bersama-sama dengan rasul-rasul di Yerusalem. Paulus selanjutnya dengan segera
mengerjakan misi selanjutnya pergi ke Damsyik dan berkhotbah tentang Yesus,
sehingga dengan segera Paulus mulai di kenal di kalangan para rasul.
2.5.
Perjalanan Misionaris Pertama
Mereka berlayar ke
Seleukia dan berjalan sepanjang 110 kilometer ke Salamis, di pantai timur
Siprus. Siprus adalah rumah lama Barnabas. Pada masa itu Siprus merupakan pusat
pernigaan dan perhubungan. Para penginjil ini mengunjungi tempat-tempat penting
di pulau Siprus sampai akhirnya mereka tiba di Pafos. Di Pafos mereka bertemu
dua orang terkemuka, yaitu seorang tukang sihir yang bernama Elimus Baryesus
dan Sergius Paulus yang menjadi gubernur pulau itu. Sergius Paulus memanggil
Barnabas dan Paulus sebab ia ingin mendengar Firman Tuhan.
Ketika para penginjil itu berusaha memenangkan
Sergius Paulus bagi Kristus, Elimus berusaha menghalang-halangi mereka.
Akhirnya, Paulus menantang "anak iblis" ini dan membuat mata orang
itu buta untuk beberapa saat. Melihat apa yang terjadi, Sergius Paulus merasa
sangat takjub dan percaya ajaran Tuhan.
2.6.
Perjalanan
Misionaris Kedua
Paulus dan kawan-kawannya sekarang meninggalkan
Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia. Di sana Yohanes Markus meninggalkan
kelompok ini dan kembali ke rumahnya di Yerusalem. Paulus dan Barnabas
meneruskan perjalanannya ke Antiokia (di Pisidia). Di Antiokia Paulus pergi ke
rumah ibadah dan memberitakan Firman Tuhan di sana. Pemberitaan itu membuat
orang-orang di sana takjub dan mereka memintanya berkhotbah lagi. Bacalah
Firman Tuhan yang diberitakan Paulus di dalam Kisah Para Rasul
13:14-42. Pada hari Sabat berikutnya, Paulus berkhotbah lagi dan hampir
seluruh kota itu berkumpul bersama-sama untuk mendengar Firman Tuhan. Hal ini
membuat jengkel orang-orang Yahudi di sana.
Mereka merasa iri dan mulai membantah apa yang
dikatakan Paulus. Namun, Paulus berkata bahwa kepada merekalah Firman Tuhan
pertama kali diberitakan. Namun karena mereka menolaknya, Paulus dan Barnabas
berpaling kepada bangsa-bangsa lain. Mendengar itu bergembiralah semua orang
yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan Firman Tuhan dan semua orang
yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Lalu, Firman
Tuhan tersiar di seluruh daerah itu. Kisah Para Rasul 13:48-49. Injil Allah
mulai masuk di hati bangsa- bangsa lain.
Namun sebaliknya, orang Yahudi berbalik melawan Paulus
dan Barnabas dan mengusir mereka dari kota.Kira-kira, 120 kilometer di sebelah
tenggara Antiokia terdapat sebuah kota yang bernama Ikonium. Paulus dan
Barnabas langsung pergi ke tempat ibadah memberitakan Firman Tuhan di sana.
Banyak orang menjadi percaya dan menerima Kristus. Namun, ada juga musuh- musuh
di sana.
Para Rasul memperlihatkan banyak tanda-tanda dan
mujizat dan tinggal lama di sana untuk memberitakan Firman Tuhan. Akhirnya,
musuh-musuh itu membentuk suatu kelompok massa dan mengancam untuk membunuh
para pengabar Injil ini. Akibatnya, Paulus dan Barnabas terpaksa harus
menyingkir dari kota itu.
Paulus dan kawan-kawannya sekarang meninggalkan
Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia. Di sana Yohanes Markus meninggalkan
kelompok ini dan kembali ke rumahnya di Yerusalem. Paulus dan Barnabas
meneruskan perjalanannya ke Antiokia (di Pisidia). Di Antiokia Paulus pergi ke
rumah ibadah dan memberitakan Firman Tuhan di sana. Pemberitaan itu membuat
orang-orang di sana takjub dan mereka memintanya berkhotbah lagi. ( Kisah Para
Rasul 13:14-42.)
Pada hari Sabat berikutnya, Paulus berkhotbah lagi
dan hampir seluruh kota itu berkumpul bersama-sama untuk mendengar Firman
Tuhan. Hal ini membuat jengkel orang-orang Yahudi di sana. Mereka merasa iri
dan mulai membantah apa yang dikatakan Paulus. Namun, Paulus berkata bahwa
kepada merekalah Firman Tuhan pertama kali diberitakan. Namun karena mereka
menolaknya, Paulus dan Barnabas berpaling kepada bangsa-bangsa lain.
Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak
mengenal Allah dan mereka memuliakan Firman Tuhan dan semua orang yang
ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Lalu, Firman Tuhan
tersiar di seluruh daerah itu. Kisah Para Rasul 13:48-49. Injil Allah mulai
masuk di hati bangsa- bangsa lain.
Namun sebaliknya, orang Yahudi berbalik melawan
Paulus dan Barnabas dan mengusir mereka dari kota. Kira-kira, 120 kilometer di
sebelah tenggara Antiokia terdapat sebuah kota yang bernama Ikonium. Paulus dan
Barnabas langsung pergi ke tempat ibadah memberitakan Firman Tuhan di sana.
Banyak orang menjadi percaya dan menerima Kristus. Namun, ada juga musuh- musuh
di sana. Para Rasul memperlihatkan banyak tanda-tanda dan mujizat dan tinggal
lama di sana untuk memberitakan Firman Tuhan. Akhirnya, musuh-musuh itu
membentuk suatu kelompok massa dan mengancam untuk membunuh para pengabar Injil
ini. Akibatnya, Paulus dan Barnabas terpaksa harus menyingkir dari kota
itu.
2.7.
Perjalanan
Paulus ke Eropa
Paulus
pergi menuju Benua Eropa melewati Asia Kecil dengan ditemani Silas dan
Timotius. Di sini Paulus mendirikan sebuah jemaat yang hampir secara
keseluruhan terdiri dari orang Kristen yang berasal dar golongan kafir. Di
Tesalonika Paulus tidak dapat melanjutkan persebaran injilnya akibat digugat
oleh pimpinan kota, sehingga dengan berat hati Paulus dan teman seperjalanannya
merasa sedih akibat peristiwa penghalangan persebaran injil ini.
Perjalanan
misionrisnya dilanjutkan ke Galatia dan di daerah tersebut mereka tinggal di
rumah Akwila dan Priskila. Di Galatia Paulus banyak mempertobatkan beberapa
orang Yahudi dan orang kafir, terutama di masyarakat rendahan. Di Galatia
Paulus sempat dituduh sebagai penyebar agama yang melawan hukum. Selanjutnya
Paulus dan rasul lainnya pergi menuju Anthiokia.
2.8.
Perjalanan
Misionaris Ketiga
Paulus
berangkat untuk perjalanan misionarisnya yang ketiga, yang dilakukan melintasi
Asia Kecil menuju Efesus. Pemberitaan itu membuat orang-orang di sana
takjub dan mereka memintanya berkhotbah lagi. Bacalah Firman Tuhan yang
diberitakan Paulus di dalam Kisah Para Rasul 13:14-42. Pada hari Sabat
berikutnya, Paulus berkhotbah lagi dan hampir seluruh kota itu berkumpul
bersama-sama untuk mendengar Firman Tuhan.
Hal
ini membuat kesal orang-orang Yahudi di sana. Mereka merasa iri dan mulai
membantah apa yang dikatakan Paulus. Namun, Paulus berkata bahwa kepada
merekalah Firman Tuhan pertama kali diberitakan. Namun karena mereka
menolaknya, Paulus dan Barnabas berpaling kepada bangsa-bangsa lain. Mendengar
itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan
Firman Tuhan dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal,
menjadi percaya. Lalu, Firman Tuhan tersiar di seluruh daerah itu. Kisah Para
Rasul 13:48-49. Injil Allah mulai masuk di hati bangsa- bangsa lain.
Namun
sebaliknya, orang Yahudi berbalik melawan Paulus dan Barnabas dan mengusir
mereka dari kota. Kira-kira, 120 kilometer di sebelah tenggara Antiokia
terdapat sebuah kota yang bernama Ikonium. Paulus dan Barnabas langsung pergi
ke tempat ibadah memberitakan Firman Tuhan di sana. Banyak orang menjadi
percaya dan menerima Kristus.
Namun, ada juga musuh- musuh di sana. Para
Rasul memperlihatkan banyak tanda-tanda dan mujizat dan tinggal lama di sana
untuk memberitakan Firman Tuhan. Akhirnya, musuh-musuh itu membentuk suatu
kelompok massa dan mengancam untuk membunuh para pengabar Injil ini. Akibatnya,
Paulus dan Barnabas terpaksa harus menyingkir dari kota itu.
Di daerah ini Paulus tinggal selama tiga tahun
dan di sini hanya melakukan pekerjaan besar dan penting menyebarkan kabar baik
dari Tuhan. Di sini Paulus menulis surat kepada jemaat di Galatia dan surat
pertama kepada jemaat di Korintus. Paulus akhirnya terpaksa pergi di daerah ini
akibat pengerjaran dari sekelompok orang.
2.9.
Perjalanan Misionaris di Yerusalem
Paulus
bertolak ke Yerusalem beserta Barnabas, Titus, dan yang lain-lain. Mereka
melalui jalan dari Sidon dan Tirus, sesudah itu membelok ke arah selatan sampai
ke Samaria dan hingga Yerusalem. Di Yerusalem orang-orang menerima Paulus
dengan gembira. Paulus dan Barnabas tampak sangat senang menceritakan segala
pengalaman mereka.
Namun,
orang farisi di Yerusalem tidak setuju dengan perbuatan Paulus dan Barnabas,
mereka berpendapat orang-orang Yahudi yang mau mengikut Yesus harus disunat
terlebih dahulu. Paulus dibawa ke Prokurator Feliks di Kaiserea dengan
penjagaan kuat. Di sinilah Paulus tinggal selama dua tahun dalam penjara.
Setelah naik banding Paulus akhirnya dipindahkan ke Roma, dan di sinilah Paulus
menulis yang disebut surat-surat
penjara, yaitu: Efesus, Kolose, Filemon, dan Filipi.
Selanjutnya
setelah perjalanan Paulus ke daerah-daerah Asia Kecil, Eropa, dan beberapa
tempat di Listra dan Derbe. Paulus juga menulis surat-surat untuk daerah-daerah
yang pernah di datanginya untuk mengabarkan injil.
2.9.1. Surat Kepada Jemaat di Galatia
Paulus menulis surat ini untuk menggambarkan pertobatan dan
panggilannya untuk melakukan pelayanan misi secara lebih luas. Paulus
menceritakan panggilan Allah dan di bentuk menjadi juru bicara Allah untuk
memberitakan firman keselamatan Allah kepada bangsa-bangsa. Paulus juga
menekankan kepada jemaat-jemaat di Galatia agar memeprcayai iman Kristus dan
juga harus membandingkan ajaran-ajaran yang yang berbeda dari Injil Allah.
Paulus juga menemui masalah karena di sini jemaat-jemaat di Galatia masih
percaya dengan hukum taurat, sehingga mengabaikan kelahiran Yesus sebagai
kelahiran baru yang harus di percaya dan diimani.
Paulus
menekankan bahwa orang non-Yahudi tidak
perlu menjadi orang Yahudi sebelum mereka diterima oleh Allah sebagai pengikut
Mesias. Di sinilah menekankan bahwa Allah mempunyai kasih karunia dan
kemurahan-Nya mengampuni dosa orang berdosa secara cuma-cuma, baik orang Yahudi
maupun non-Yahudi.
2.9.2.
Surat
Kepada Jemaat di Makedonia: Tesalonika dan Filipi
Paulus
menulis tiga surat kepada jemat yang ia dirikan di Provinsi Makedonia. Ia
menulis dua surat kepada jemaat di Tesalonika (pada 50 M). Dan satu surat
kepada jemaat di Filipi (57 M). Pada surat kepada jemaat di Tesalonika Paulus
sangat menyadari pentingnya kontak awal dengan penduduk di sebuah kota baru.
Paulus juga menekankan bahwa Allah itu hanya satu kepada jemaat di Tesalonika,
dan mengingatkan bahwa ilah-ilah tradisonal harus ditinggalkan kepada jemaat di
Tesalonika.
Di
sini Paulus menjuhkan dirinya dari penipuan, keicikan dan keserakahan sebagai
motivasi pemberitaan misinya, dan ia menekankan fokusnya bukan pada dirinya
sendiri melainkan pada Allah. Dari sini Paulus belajar bahwa sebagai seorang
misionaris harus dikontrol oleh sifat Injil dan megabaikan sifat duniawi dan
keinginan diri sendiri.
2.9.3. Surat Kepada Jemaat di Akhaya:
Korintus
Dalam suratnya Paulus menekanan persatuan dalam
gereja, karena melihat masalah dalam jemaat di Korintus ialah membentuk
blok-blok pada jemaat akibat perpecahan karena terlalu memilih guru jemaat
serta para pengkhotbah. Isi dalam suratnya mejeaskan bahwa Paulus menjadikan
dirinya seorang hamba dan Allah ialah atasan dalam pekerjaan misi dan pekerjaan
Allah.
Paulus
menjelaskan bahwa Allah lah yang memiliki ladang tersebut bukan para guru
jemaat, jadi Paulus menekankan untuk bersatu dan menghimbau jangan terjadi lagi
perpecahan karena Allah telah menyediakan gereja untuk bersekutu dan melayani
bukan untuk membentuk perpecahan. Paulus juga menceritakan dalam suratnya bahwa
dirinya telah dimenangkan oleh Allah dari maut, sehingga Paulus merasa berutang
kepada Allah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang tersesat untuk kembali ke jalan
Tuhan, sehingga Paulus menyerahkan sepenuh hidupnya untuk menjadi seorang rasul
dalam kuasa Allah
2.9.4.
Surat
Kepada Jemaat di Roma
Paulus
dalam suratnya kepada kota Roma dapat disebut juga dokumen misi, karena Paulus
mempersiapkan dirinya dan jemaat di Roma untuk pekerjaaan misi ke Spanyol yang
direncanakan pada 57 M. Paulus menjelaskan misi di kota Roma untuk berfokus
pada pertobatan orang tanpa memandang dimana mereka tinggal atau siapa mereka,
sehingga pekerjaan misi saling bergantung pada komunitas Kristen. Dengan
harapan pada surat ini Paulus sebagai
seorang misionaris yang hendak melakukan perjalanan ke Spanyol mengundang
masyrakat kota Roma memahami surat teologisnya.
Pesan
yang disampaikan oleh Paulus bukan hanya teori saja namun berhubungan dengan realitas
hidup sehari-hari, sehingga pekerjaan misi selalu memperhitungkan situasi
khusus pendengarnya. Paulus juga menekankan kasih kepada setiap manusia, karena
pekerjaan misi tidak akan tersampaikan ketika tidak didasari oleh kasih
layaknya kasih Allah pada manusia.
2.9.5.
Surat
Kepada Jemaat di Asia: Kolose dan Efesus
Paulus
menulis dua surat kepada jemaat di Provinsi Asia: kepada jemaat di Kolose dan
orang percaya di Efesus. Kedua surat ini mungkin ditulis pada 60 M ketika ia
dipenjara di Roma. Paulus dalam suratnya menjelaskan sebagai Rasul merupakan
jalan penderitaan yang indah, seperti halnya Yesus selama menjalankan misi-Nya.
Penderitaan merupakan akibat pekerjaan misi yang wajar dan tak terhindarkan.
Kegiatan misi adalah pekerjaan berat dan sering kali melibatkan pergumulan.
Paulus menceritakan sebagai penginjil
menuntut perhatian sepenuhnya dan seluruh energi.
Paulus
juga menjelaskan bahwa orang Kristen di Kolose mengalami kemajuan dalam hal
iman dan kasih. Paulus juga menjelaskan tentang rahasia Allah yang tidak dapat
di jangkau sehingga di sinilah Paulus meletakkan dasar pengharapan kepada
setiap gereja sebagai salah satu perwujudan rahasia Allah. Paulus tidak lupa
bahwa setiap orang percaya diberikan kuasa menaklukkan hal penyembahan berhala
serta melawan kuasa gelap ketika percaya akan kuasa Allah.
2.9.6.
Surat
Kepada Rekan Sekerja: Timotius dan Titus
Paulus
menulis surat ini kepada Timotius sahabat karibnya, terlebih Timotius
menghadapi berbagai kesulitan di masa mudanya pada umur 35 tahun. Dalam masa
itu juga banyak pengajar-pengajar sesat, yang berpegang teguh kepada silsilah
kuno dan bermacam-macam dongeng lama. Sehingga Paulus menguatkan Timotius dalam
suratnya tersebut.
Paulus
memberi pengarahan kepada Timotius untuk memastikan bahwa sikap orang percaya
di gereja-gereja di Asia Kecil mendukung penyebaran injil. Timotius lebih
diarahkan untuk mengajar para guru di gereja-gereja untuk memastikan pelayanan
mereka mengenalkan komitmen yang penuh diantara orang Kristen satu sama lain.
Paulus menjelaskan bahwa setiap orang Kristen harus mendoakan semua orang,
terkhusus pemimpin-pemimpin negara.
Kepada
Titus, Paulus menjelaskan bahwa setiap perempuan-perempuan tua harus mendukung
persebaran Injil, serta kepada budak-budak yang telah percaya untuk selalu
menerapkan Injil dalam pekerjaannya. Serta selalu tulus dan setia dalam
perkerjaannya terhadap hambanya, dan juga budak boleh memberitakan Injil kepada
sekitarnya dengan cara hidup yang sesuai dengan perintah Tuhan.
2.9.7.
Surat
Paulus kepada Filemon
Surat
ini ditulis oleh Paulus berdasarkan kisah pertemuan antara Paulus dan Onesimus.
Onesimus adalah seorang hamba Kristen yang terkemuka di Kolose, namun dia lari
dari tuannya dulu dan pergi ke Roma. Di Roma Paulus dan Onesimus berjumpa, sehingga Paulus
membuat Onesimus bertobat.Paulus lalu menyuruh Onesimus kembali ke tuannya yang
dulu, namun Onesimus menolak dengan alasan takut Filemon memarahi dia.
Dari
hal inilah Paulus membuat surat kepadanya sebagai surat keterangan mengenai
Onesimus. Paulus menyebut Onesimus anaknya yang didapatnya selagi ia dalam
penjara.
Paulus
juga meminta dengan sangat, supaya Filemon jangan berlaku keras terhadap
Onesimus, jangan memandang dia sebagai seorang hamba lagi, tetapi sebagai
seorang saudara yang kekasih.
2.10.
Akhir
hidup Paulus
Paulus menggambarkan masa mendatang tampak
kemurtadan, kelemahan iman, dan semakin dekat dengan akhir zaman semakin dekat
pula godaan dalam jemaat. Paulus menuliskan kata perpisahan, karena dia sendiri
merasa kematiannya sudah dekat. Dalam
masa dekat akhir hidupnya Paulus merasa sendiri karena banyak yang meninggalkan
dirinya dan murtad dari injil.
Isi surat yang
terakhir ini adalah suatu panduan dari ungkapan perasaan pribadi dan
kebijaksanaan kepemimpinan gereja, yang berupa kenangan dan perintah, kesedihan,
dan keyakinan. Tujuan utamanya adalah untuk memperteguh Timotius untuk menerima
tugas berat yang dalam waktu dekat akan dilepaskan oleh Paulus. Ia menguraikan
pola penggembalaan jemaat dengan pertama-tama mengingatkan Timotius akan
pengalaman pribadinya, dan dengan mengikutsertakan ia di dalamnya, "Dialah
yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, berdasarkan
maksud dan kasih karunia-Nya sendiri" (2 Timotius 1:9).
Berdasarkan panggilan
ini, ia mendorong Timotius untuk menerima segala kesulitan seperti seorang
prajurit yang maju berperang (2:3), dengan memasrahkan perencanaan strategi
pada pimpinannya, dan mengabdi dengan sepenuh hati dan tanpa pernah mengeluh di
mana pun tenaganya dibutuhkan. Dalam kehidupan pribadi dan dalam hubungan
kemasyarakatan dengan jemaat ia harus berlaku sebagai hamba Tuhan, tidak suka
berselisih tetapi selalu siap untuk membantu semua orang memahami kebenaran
Tuhan.
Gambaran tentang
hari-hari terakhir, seperti paragraf yang serupa dalam 1Timotius 4:1-3, adalah
serangkaian ramalan yang melukiskan ciri-ciri dari keadaan yang kelak akan
dihadapi gereja. Perisai yang dirumuskan Paulus untuk menahan arus kefasikan
adalah pengetahuan akan Kitab Suci "yang dapat memberi hikmat kepadamu dan
menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus"
(2Timotius 3:15).Perintah terakhir (4:1-6) adalah suatu karya yang indah, dan
harus dipelajari dengan seksama oleh setiap penginjil.
Waktu pembelaan Paulus pertama kali dimuka
pengadilan, tidak ada seorangpun yang datang membantu dia. Hingga akhirnya Paulus mati dibunuh dengan pedang oleh kaisar
Nero. Seorang Bapa Gereja yang bernama Eusebius mengatakan bahwa pada zamannya
masih kedapatan kubural Rasul Paulus di “Via Ostentis” (Jalan ke Ostia) di Roma.
III.
Kesimpulan
Setelah melihat kisah
masa kecil Paulus yang merupakan gambaran dari anak yang berasal dari keluarga
Yahudi yang sangat taat dengan hukum taurat, dan juga menjadi pimpinan kaum
Farisi yang sangat benci dengan ajaran Yesus dan juga para rasul atau murid
yang memberitakan injil ke seluruh bangsa. Namun, Tuhan berencana lain dengan
memberikan pelajaran yang membuat diri seorang
Paulus yang membenci Yesus dan sekarang menjadi seorang rasul.
Bukan menjadi rasul
biasa saja, namun Paulus menjadi salah satu Rasul yang menjadi popular di
kalangan para rasul-rasul lain dan bakan menjadi penyemangat bagi para
pemberita injil masa sekarang yang. Paulus juga menjadi penulis 13 surat yang
dikanonkan termasuk dalam kitab perjanjian baru dan termasuk menai catatan
sejarah bagaimana pengorbanan para martir dalam memberitakan firman Tuhan.
IV.
Daftar
Pustaka
Adi S, Lukas. , Smart Book of Christianity, (Yogyakarta:ANDI,
2012)
Bavinck, J.H., Sejarah Kerajaan Allah 2,(Jakarta:BPK-GM,
2015)
Drane,
John, Memahami Perjanjian Baru, ( Jakarta: BPK-GM, 1996),
G. Gromacki,
Robert , New Testament Survey, (Michigan: Baker Book House, 1989),
J. Schnabel, Eckhard, Rasul Paulus sang Misionaris, (Yogyakarta:ANDI, 2010)
Jacobs, Tom, RASUL PAULUS, (Yogyakarta: Kanisius, 1984)
M. Baugh, Steven, Paul The Apostle, (Coroline:University of California, 1990)
Paus Benediktus XVI, The Apostles, (Yogyakarta: Kanisius,
2015),
Sanders, E.P., Paul and Palestinian Judaism, (Philadelphia:
Fortress Press, 1977),
Merrill C. Tenney, Survei Perjanjian Baru, (Gandum Mas:
Malang, 1995),
Charles Ludwig , Kota-kota Pada Zaman Baru, (Kalam Hidup:
Bandung, 1975),
Peter T. O’Brien, Philemon, (Waco:Word, 1982), 87-88