Sebuah
Pengampunan
Pengampunan sesuatu yang awam bagi yang belum pernah
merasakan apa itu terluka ataupun disakiti, jelas terluka karena dendam ataupun
disakiti akibat peristiwa masa lalu membentuk sebuah dendam dalam lubuk hati.
Berbicara tentang pengampunan tidak pas jika belum membahas dendam dan
penolakan akan diri sendiri serta lingkungan.
Membahas dendam kita tak perlu menutup mata, setiap dari
kita ataupun seseorang yang kita anggap suci pernah merasakan apa itu
mendendam. Dendam merupakan perasaan kesal, iri, dengki, serta muak akan
seseorang ataupun situasi yang menekan diri kita ataupun secara tidak langsung
membuat diri kita malu di depan khalayak
ramai. Dari perasaan-perasaan yang menekan pribadi kita itulah timbul dendam yang mungkin ada yang tidak
menyadarinya namun merasa ada yang mengganjal dalam hati. Dalam konteks
Alkitabiah, kisah Kain dan Habel (Kejadian 4:1-6) begitu nyata bahwa dendam itu
berasal dari iri hati dan dengki terhadap teman, sahabat, atau bahkan saudara
dekat yang telah kita anggap sebagai kehormatan.
Berbicara tentang penolakan diri
serta lingkungan sebagian orang akan bingung, apa yang ditolak atupun siapa
yang menolak. Dalam konteks sosial, penolakan berarti menghambat ataupun tidak
menyetujui hadirnya atau adanya sesuatu, sehingga penolakan diri sendiri
artinya individual merasa tidak nyaman atau bahkan menghujat kekurangan yang
terdapat dalam diri, atau bahkan lebih ke arah perubahan yang dilakukan secara
terpaksa akibat penolakan yang terjadi dalam diri sendiri.
Membahas penolakan terhadap
lingkungan, individu merasa tertekan akibat lingkungan yang dianggapnya suci
atau bahkan lingkungan yang dianggapnya anti kotor ternyata di luar ekspetasi
individu tersebut, sehingga mulailah terjadi penolakan dengan melakukan
serangkaian pemberontakan, menghujat, atau bahkan menghancurkan lingkungan
tersebut. Efek kepada individual pun besar, lingkungan dapat menekan personal
yang merasa tertekan. Sehingga timbullah depresi, kebingungan arah hidup, dan
juga kebimbangan terhadap masa depan di lingkungan tersebut.
Setelah paham bagaimana dendam dan
penolakan terhadap diri sendiri, di sinilah fungsi dan letak pentingnya sebuah
pengampunan. Ketika tadi telah membahas apa itu dendam, di sini dendam layaknya
kotoran yang berat dan bau, di situlah kita melihat dendam dengan efeknya
ketika dendam itu di simpan sehingga dapat menimbulkan efek bau. Efek bau yang
dimaksud terlihat dari sikap inividu yang mendendam kepada orang yang
dibencinya. Ambil Contoh ketika kita dendam dengan orang, kita merasa sinis dan
risih ketika berada di dekat orang tersebut atau bahkan berniat membalas dendam
tersebu dengan melakukan kekerasan.
Ketika hal-hal negatif pada efek dendam itu terjadi, maka dendam
layaknya kanker yang merusak tubuh serta jiwa. Dampak kepada diri sendiri
ketika kita mendendam dapat berupa sakit berkepanjangan, depresi atau bahkan
gangguan kejiwaan. Tak jarang orang yang menyimpan dendam dalam hatinya dapat
diganggu oleh roh-roh jahat, sehingga menimbulkan manifestasi karena kelanjutan
dari dendam ialah akar pahit yang menyebabkan gangguan-gangguan roh. Karena roh
jahat begitu senang datang dan berdiam dalam hati yang pendendam.
Berbicara penolakan diri sendiri dan
lingkungan seperti yang telah dijelaskan, efek yang benar-benar terasa tak jauh
beda dengan dendam hati yaitu depresi. Namun yang berbeda dari dendam ialah
merasa terkucil terhadap diri sendiri dengan lingkungan, terkucil artinya
merasa rendah melihat diri sendiri. Efek kelanjutannya ialah kehilangan kendali
diri karena merasa rendah sehingga datanglah si jahat untuk mengendalikan
pikiran individu yang merasa ditolak.
Begitu jelas terasa efek dan dampak
dari dendam dan penolakan terhadap diri sendiri, sehingga pengampunan merupakan sebuah penawaran menarik bagi
setiap jiwa-jiwa yang mendendan dan menolak berkat.Tuhan. Pilihan mengampuni
musuh/ lawan merupakan sebuah kemerdekaan hidup yang nyata, di sebut
kemerdekaan karena dendam merupakan belenggu jiwa dari kebebasan merasakan
cinta kasih Allah dari setiap orang, sehingga mengampuni merupakan pilihan
perubahan bagi hidup yang terbelenggu kea rah yang lebih damai.
Inti dari pengampunan ialah
keterbukaan dan toleransi terhadap sikap yang membuat kta dendam dan benci.
Ketika kita coba berlogika tentang orang yang pendendam, bagaimana orang yang
mendendam dapat menjadi depresi karena benci terhadap orang yang dibencinya,
sedangkan orang yang dibencinya tidak merasakan apa-apa atau bahkan orang yang
dibencinya itu dapat bertumbuh dan berkembang. Jelas di posisi pendendam
menambah satu lagi pelajaran bagaimana mendendam dapat menghambat pertumbuhan
iman dan jiwa orang,
Sebuah omong kosong belakang ketika
seseorang berbicara “waktu dapat menyembuhkan dendam”.. Waktu tak dapat menyembuhkan
pergumulan dendam bahkan ketika dibiarkan bersama sang waktu yang berputar,
dendam itu akan diam namun bertumpuk dan larut sehingga memenuhi seluruh
pikiran dan selanjutnya akan menjadi depresi dan gangguan kejiwaan. Butuh
sebuah tindakan kerendahan diri atau bahkan kepasrahan akan pengampunan dan
biarkanlah Tuhan coba memulihkan hati serta pikiran sehingga kondisi akan kembali seperti semula.
Berbicara mengampuni memang berat
namun dalam (2 Korintus 2:10) “ Sebab barangsiapa yang kamu ampuni
kesalahannya, aku mengampuninya juga. Sebab jika aku mengampuni, - seandainya
ada yang harus kuampuni-, maka hal itu kubuat oleh karena kamu dihadapan
Kristus, . Jelas meskipun sulit di sini Rasul Paulus mengajarkan mengmpuni
karena kita semua berada di hadapan Kristus.
Ketika diri merasakan penolakan yang
benar-benar harus dilakukan ialah bersyukur, dalam (Kolose 3:15) “ Hendaklah
damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah
dipanggil menjadi satu tubuh. Dan Bersyukurlah.”. Jelas ketika kita mencoba
bersyukur diatas semua kekurangan dan terhadap tekanan diri sendiri di situlah
Yesus dengan damai sejahtera bekerja dalam membuat rancangan terindah dalam
setiap diri manusia asal setiap manusia
mencoba mensyukuri berkat Tuhan.
Belajar dari Sebuah Pengampunan akan
disimpulkan bagaimana Tips-tips Mengampuni:
1) Libatkan
Tuhan dalam setiap perencanaan, apapun itu termasuk meminta Tuhan membukakan
pintu dendam agar kuasa Tuhan bekerja dalam menjalankan sebuah pengampunan.
2) Daftarkan
rasa dendam yang pernah melukai hati anda dan tuliskan pada sebuah kertas
3) Ingat
bagaimana perasaan anda saat emosi atau menyimpan dendam itu, sehingga akan
kembali berpikir ke depan untuk menjadi lebih baik kea rah keterbukaan akan
pengampunan.
4) Ingat
bakarlah/ buanglah daftar rasa dendam itu dan berjanji/ bertekad menjadi
pengikut Kristus harus mencoba belajar mengampuni seperti layaknya Rasul Paulus
ataupun Yesus sendiri
5) Berdoa
akan kesembuhan emosi, maksudnya minta Tuhan memulihkan hati yang hancur dan
bersyukur atas semua keadaan sehingga timbullah pemikiran akan menjadikan
pengikut Kristus merupakan pribadi yang mengampuni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar