Selasa, 13 Oktober 2015

Belajar Sebuah Pengampunan

Sebuah Pengampunan
            Pengampunan sesuatu yang awam bagi yang belum pernah merasakan apa itu terluka ataupun disakiti, jelas terluka karena dendam ataupun disakiti akibat peristiwa masa lalu membentuk sebuah dendam dalam lubuk hati. Berbicara tentang pengampunan tidak pas jika belum membahas dendam dan penolakan akan diri sendiri serta lingkungan.
            Membahas dendam kita tak perlu menutup mata, setiap dari kita ataupun seseorang yang kita anggap suci pernah merasakan apa itu mendendam. Dendam merupakan perasaan kesal, iri, dengki, serta muak akan seseorang ataupun situasi yang menekan diri kita ataupun secara tidak langsung membuat diri kita  malu di depan khalayak ramai. Dari perasaan-perasaan yang menekan pribadi kita itulah timbul  dendam yang mungkin ada yang tidak menyadarinya namun merasa ada yang mengganjal dalam hati. Dalam konteks Alkitabiah, kisah Kain dan Habel (Kejadian 4:1-6) begitu nyata bahwa dendam itu berasal dari iri hati dan dengki terhadap teman, sahabat, atau bahkan saudara dekat yang telah kita anggap sebagai kehormatan.
            Berbicara tentang penolakan diri serta lingkungan sebagian orang akan bingung, apa yang ditolak atupun siapa yang menolak. Dalam konteks sosial, penolakan berarti menghambat ataupun tidak menyetujui hadirnya atau adanya sesuatu, sehingga penolakan diri sendiri artinya individual merasa tidak nyaman atau bahkan menghujat kekurangan yang terdapat dalam diri, atau bahkan lebih ke arah perubahan yang dilakukan secara terpaksa akibat penolakan yang terjadi dalam diri sendiri.
            Membahas penolakan terhadap lingkungan, individu merasa tertekan akibat lingkungan yang dianggapnya suci atau bahkan lingkungan yang dianggapnya anti kotor ternyata di luar ekspetasi individu tersebut, sehingga mulailah terjadi penolakan dengan melakukan serangkaian pemberontakan, menghujat, atau bahkan menghancurkan lingkungan tersebut. Efek kepada individual pun besar, lingkungan dapat menekan personal yang merasa tertekan. Sehingga timbullah depresi, kebingungan arah hidup, dan juga kebimbangan terhadap masa depan di lingkungan tersebut.
            Setelah paham bagaimana dendam dan penolakan terhadap diri sendiri, di sinilah fungsi dan letak pentingnya sebuah pengampunan. Ketika tadi telah membahas apa itu dendam, di sini dendam layaknya kotoran yang berat dan bau, di situlah kita melihat dendam dengan efeknya ketika dendam itu di simpan sehingga dapat menimbulkan efek bau. Efek bau yang dimaksud terlihat dari sikap inividu yang mendendam kepada orang yang dibencinya. Ambil Contoh ketika kita dendam dengan orang, kita merasa sinis dan risih ketika berada di dekat orang tersebut atau bahkan berniat membalas dendam tersebu dengan melakukan kekerasan.
            Ketika hal-hal negatif  pada efek dendam itu terjadi, maka dendam layaknya kanker yang merusak tubuh serta jiwa. Dampak kepada diri sendiri ketika kita mendendam dapat berupa sakit berkepanjangan, depresi atau bahkan gangguan kejiwaan. Tak jarang orang yang menyimpan dendam dalam hatinya dapat diganggu oleh roh-roh jahat, sehingga menimbulkan manifestasi karena kelanjutan dari dendam ialah akar pahit yang menyebabkan gangguan-gangguan roh. Karena roh jahat begitu senang datang dan berdiam dalam hati yang pendendam.
            Berbicara penolakan diri sendiri dan lingkungan seperti yang telah dijelaskan, efek yang benar-benar terasa tak jauh beda dengan dendam hati yaitu depresi. Namun yang berbeda dari dendam ialah merasa terkucil terhadap diri sendiri dengan lingkungan, terkucil artinya merasa rendah melihat diri sendiri. Efek kelanjutannya ialah kehilangan kendali diri karena merasa rendah sehingga datanglah si jahat untuk mengendalikan pikiran individu yang merasa ditolak.
            Begitu jelas terasa efek dan dampak dari dendam dan penolakan terhadap diri sendiri, sehingga pengampunan  merupakan sebuah penawaran menarik bagi setiap jiwa-jiwa yang mendendan dan menolak berkat.Tuhan. Pilihan mengampuni musuh/ lawan merupakan sebuah kemerdekaan hidup yang nyata, di sebut kemerdekaan karena dendam merupakan belenggu jiwa dari kebebasan merasakan cinta kasih Allah dari setiap orang, sehingga mengampuni merupakan pilihan perubahan bagi hidup yang terbelenggu kea rah yang lebih damai.
            Inti dari pengampunan ialah keterbukaan dan toleransi terhadap sikap yang membuat kta dendam dan benci. Ketika kita coba berlogika tentang orang yang pendendam, bagaimana orang yang mendendam dapat menjadi depresi karena benci terhadap orang yang dibencinya, sedangkan orang yang dibencinya tidak merasakan apa-apa atau bahkan orang yang dibencinya itu dapat bertumbuh dan berkembang. Jelas di posisi pendendam menambah satu lagi pelajaran bagaimana mendendam dapat menghambat pertumbuhan iman dan jiwa orang,
            Sebuah omong kosong belakang ketika seseorang berbicara “waktu dapat menyembuhkan dendam”.. Waktu tak dapat menyembuhkan pergumulan dendam bahkan ketika dibiarkan bersama sang waktu yang berputar, dendam itu akan diam namun bertumpuk dan larut sehingga memenuhi seluruh pikiran dan selanjutnya akan menjadi depresi dan gangguan kejiwaan. Butuh sebuah tindakan kerendahan diri atau bahkan kepasrahan akan pengampunan dan biarkanlah Tuhan coba memulihkan hati serta pikiran  sehingga kondisi akan kembali seperti semula.
            Berbicara mengampuni memang berat namun dalam (2 Korintus 2:10) “ Sebab barangsiapa yang kamu ampuni kesalahannya, aku mengampuninya juga. Sebab jika aku mengampuni, - seandainya ada yang harus kuampuni-, maka hal itu kubuat oleh karena kamu dihadapan Kristus, . Jelas meskipun sulit di sini Rasul Paulus mengajarkan mengmpuni karena kita semua berada di hadapan Kristus.
            Ketika diri merasakan penolakan yang benar-benar harus dilakukan ialah bersyukur, dalam (Kolose 3:15) “ Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan Bersyukurlah.”. Jelas ketika kita mencoba bersyukur diatas semua kekurangan dan terhadap tekanan diri sendiri di situlah Yesus dengan damai sejahtera bekerja dalam membuat rancangan terindah dalam setiap diri manusia asal setiap  manusia mencoba mensyukuri berkat Tuhan.
            Belajar dari Sebuah Pengampunan akan disimpulkan bagaimana Tips-tips Mengampuni:
1)      Libatkan Tuhan dalam setiap perencanaan, apapun itu termasuk meminta Tuhan membukakan pintu dendam agar kuasa Tuhan bekerja dalam menjalankan sebuah pengampunan.
2)      Daftarkan rasa dendam yang pernah melukai hati anda dan tuliskan pada sebuah kertas
3)      Ingat bagaimana perasaan anda saat emosi atau menyimpan dendam itu, sehingga akan kembali berpikir ke depan untuk menjadi lebih baik kea rah keterbukaan akan pengampunan.
4)      Ingat bakarlah/ buanglah daftar rasa dendam itu dan berjanji/ bertekad menjadi pengikut Kristus harus mencoba belajar mengampuni seperti layaknya Rasul Paulus ataupun Yesus sendiri

5)      Berdoa akan kesembuhan emosi, maksudnya minta Tuhan memulihkan hati yang hancur dan bersyukur atas semua keadaan sehingga timbullah pemikiran akan menjadikan pengikut Kristus merupakan pribadi yang mengampuni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar