Sabtu, 24 Oktober 2015

Menjadi “Tetangga Yang Baik” dalam Beragama

Menjadi “Tetangga Yang Baik” dalam Beragama

            Suatu kata yang unik ketika mendengar Tetangga Yang Baik dimunculkan dalam hidup beragama, berbicara mengenai tetangga dalam kehidupan masyarakat Indonesia merupakan pendamping dalam hidup bermasyarakat. Dalam tradisi masyarakat Indonesia tetangga menjadi kunci penting dalam bermasyarakat, ketika tetangga menjadi penopang dalam kehidupan, bahkan tetangga dapat menjadi saudara dalam masyarakat.
            Ketika berbicara beragama, melihat situasi kehidupan beragama di Indonesia yang sangat majemuk. Bahkan ketika melihat keberagaman beragama di bumi pertiwi ini tidak heran menjadikan Indonesia sebuah percontohan bagi negara-negara lain. Bagaimana keberagaman bukan menjadi penghalang agama-agama untuk berbaur bahkan saling menopang satu sama lain.
            Jika melihat ke dalam unsur beragama, agama dapat menjadi simpul erat yang memeperkuat nasionalisme bangsa. Bagaimana tidak di Indonesia terjalinnya hidup dalam bermasyarakat jika tidak didasari akan kesadaran toleransi beragama akan merusak tatanan masyarakat atau bahkan mengganggu jalannya kehidupan nasionalisme yang telah di tanamkan oleh para leluhur bangsa ini.
            Mengingat pada waktu perumusan pancasila terjadi pertentangan dengan kata “syariat Islam” , membuat beberapa pejuang-pejuang dari timur menguslkan perubahan. Di sini tampak leluhur pejuang-pejuang bangsa terdahulu tidak memiliki sifat egoistis dan ingin menang agamanya menang sendiri. Jelas dari dulu Indonesia bukti nyata sebuah keberagaman yang saling menghargai.
            Berbicara kepelbagaian dan pluralitas beragama mengingatkan kita semua pada konsep bangsa Indonesia yaitu “Bhineka Tunggal Ika” yang jika ditelusuri berasal dari bahasa agama Hindu yaitu “Bhina Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa” yang artinya berbeda-beda dia, tetapi satu adanya, tak ada ajaran yang menduakannya. Melihat ucapan Mpu Tantular yang memberikan sebuah kata “Bhineka Tunggal Ika” berarti dapat diambil kesimpulan bahwa jalan menuju Tuhan bisa berbeda, tetapi yang dituju satu adanya dan tidak ada ajaran (agama) yang menduakan dan membedekannya.
            Dari sebuah semboyan bangsa Indonesia ini kita sebagai umat beragama merefleksikan bahwa usaha membangun kerukunan dan kepelbagaian itu telah dimulai oleh para pejuang-pejuang serta leluhur bangsa Indonesia terdahulu. Maka dari sebuah pekerjaan rumah yang wajib dilakukan tiap-tiap agama membangun spirit nasionalisme dalam konteks beragam agama. Yang dimaksud setiap agama sudah seharusnya membenahi infrastruktur dalam menjiwai keberagaman demi nasionalsme, ini bukan lagi kegiatan tuduh-menuduh untuk membangun nasionalisme tetapi sebuah gerakan nyata dari tiap-tiap agama.
            Kita tentunya tidak menutup mata melihat terjadinya konflik Tolikara serta Aceh Singkil bahkan secara global melihat konflik Israel-Palestina. Ini menjadi sebuah dilema keberagaman, bagaimana tidak di negara Indonesia yang menurut survey tingkat kerukunan dan toleransinya mencapai angka 86,8%. Ini jelas menjadi sebuah pertanyaan apa pemicu terjadinya konflik di wilayah Indonesia yang majemuk ini.
            Membahas tentang konflik, setiap wilayah yang di tempati oleh berbagai-bagai manusia yang tidak memiliki pandangan dan pemikiran yang sama. Jelas tidak terlepas dari namanya konflik, namun konflik tersebut seharusnya tidak terjadi secara berkesinambungan. Ini membutuhkan manajemen serta pemahaman mendalam apa yang terjadi dalam konflik tersebut baru kita mengerti bagaimana mengatasi sebuah konflik beragama.
“Tak ada asap maka tak ada api” jelas pepatah ini menggambarkan  konflik yang terjadi di tengah kepelbagaian agama, di sini yang pertama beban sejarah agama itu sendiri. Yang dimaksud melihat konteks konflik Israel-Palestina jelas ini berawal dari perebutan wilayah yang terjadi secara turun temurun di tambah konflik lama yang terjadi antara umat beragama Yahudi dan Islam yang telah lama.
Penyebab tejadinya konflik yang kedua ialah provokasi, provokasi benar-benar merusak sendi-sendi kedamaian, bagaimana tidak melihat konteks konflik Aceh Singkil baru-baru ini semua orang tidak akan percaya, melihat keberagaman dalam bangsa Indonesia telah lama berlangsung tanpa terjadi konflik. Bahkan Mesjid dan Gereja saling berdampingan tanpa konflik. Nyata bahwa ada campur tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab membangun kedamaian dan nasionalime di Indonesia ini.
Penyebab yang ketiga ialah campur tangan pihak penguasa, setiap agama akan rusak fungsinya ketika telah “ditunggangi” oleh pihak penguasa pemerintahan atau bahkan dijadikan alat berpolitisasi mempertahankan status quo  pihak penguasa. Benar menjadi sebuah perusak perdamaian agama, ketika sebuah agama membela satu pihak dan mengabaikan unsur netral yang seharusnya diemban sebuah agama. Agama hakikatnya penengah bukan menadi alat dukungan politik.
Penyebab-penyebab yang telah dipaparkan tadi menjadi sebuah antisipasi umat beragama, dan sekarang bagaimana cara konkret menjadi “Tetengga Yang Baik” dalam beragama. Yang pertama harus dilakukan agama dan penganut agama tersebut ialah menghilangkan sifat egoistis dan tertutup (eksklusivisme). Di sini yang dimaksud adalah setiap agama harus rela membuang sifat ingin menang sendiri serta tidak mau berbaur atau bahkan bertukar pemikiran dengan agama yang lain.
Yang kedua ialah menjunjung tinggi kerukunan yang sejati dan menjadikan kerukunan ialah sebuah keharusan. Yang dimaksudkan ialah masing-masing agama mengedepankan perdamaian dan kepentingan demi sebuah kerukunan, serta kerukunan tersebut bukan menjadi sebuah paksaan di tengah keberagaman. Namun menjadi sebuah keharusan, mengapa menjadi sebuah keharusan karena  tanpa kerukunan sebuah indahnya keberagaman agama akan rusak ketika kerukunan dipaksakan bukan datang dari keikhlasan hati menjaga sebuah kerukunan tersebut
Yang ketiga ialah memahami tiap agama dan keunikan pluralisme, dimaksudkan memahami ialah mengerti keberagaman agama tersebut namun bukan harus meyakini agama tersebut. Di sinilah terkadang orang salah mengerti ketika kita paham tiap-tiap agama, kita akan lebih bertoleransi dengan doktrin dan agama tersebut tanpa kita harus yakin dan ikut doktri atau ajaran agama tersebut. Banyak konflik terjadi karena sedikitnya pemahaman tentang agama lain, maka dari sedikitnya pemahaman akan timbul prasangka atau dugaan-dugaan yang buruk dengan agama tersebut.
Tindakan nyata yang terakhir sehingga dapat menjadi “Tetangga Yang Baik” dalam beragama ialah memiliki integritas dan kecerasan dalam beragama. Dalam hal integritas, sebagai umat beragama yang berintegritas harus melepaskan fanatisme terhadap doktrin agama, karena itulah pemicu rusaknya harmonisasi beragama. Sedangkan kecerdasan yang dimaksud ialah kecerasan dalam hal memfilter apapun pembicaraan ataupun berita-berita yang menyudutkan suatu agama, karena dengan kita memiliki kecerasan beragama yang rendah makaakan lebih mudah dipengaruhi dan dirusak pemikiran akan indahnya kepelbagaian agama
Sehingga setelah berbicara luas tentang agama dan “Tetangga Yang Baik” dlam hal beragama, sampailah pada sebuah perenungan bahwa menjadi Tetangga dalam hal beragama, kita tidak perlu memaksakan lingkungan beragama untuk masuk dan menghayati agama kita. Namun cukup dengan kita memberikan sebuah pertolongan atas dasar kemanusiaan, memberikan pemikiran yang menolong. Dapat dikatakan kita telah menjadi “Tetangga Yang Baik” dalam kemajemukan beragama.

           

            

Selasa, 13 Oktober 2015

Belajar Sebuah Pengampunan

Sebuah Pengampunan
            Pengampunan sesuatu yang awam bagi yang belum pernah merasakan apa itu terluka ataupun disakiti, jelas terluka karena dendam ataupun disakiti akibat peristiwa masa lalu membentuk sebuah dendam dalam lubuk hati. Berbicara tentang pengampunan tidak pas jika belum membahas dendam dan penolakan akan diri sendiri serta lingkungan.
            Membahas dendam kita tak perlu menutup mata, setiap dari kita ataupun seseorang yang kita anggap suci pernah merasakan apa itu mendendam. Dendam merupakan perasaan kesal, iri, dengki, serta muak akan seseorang ataupun situasi yang menekan diri kita ataupun secara tidak langsung membuat diri kita  malu di depan khalayak ramai. Dari perasaan-perasaan yang menekan pribadi kita itulah timbul  dendam yang mungkin ada yang tidak menyadarinya namun merasa ada yang mengganjal dalam hati. Dalam konteks Alkitabiah, kisah Kain dan Habel (Kejadian 4:1-6) begitu nyata bahwa dendam itu berasal dari iri hati dan dengki terhadap teman, sahabat, atau bahkan saudara dekat yang telah kita anggap sebagai kehormatan.
            Berbicara tentang penolakan diri serta lingkungan sebagian orang akan bingung, apa yang ditolak atupun siapa yang menolak. Dalam konteks sosial, penolakan berarti menghambat ataupun tidak menyetujui hadirnya atau adanya sesuatu, sehingga penolakan diri sendiri artinya individual merasa tidak nyaman atau bahkan menghujat kekurangan yang terdapat dalam diri, atau bahkan lebih ke arah perubahan yang dilakukan secara terpaksa akibat penolakan yang terjadi dalam diri sendiri.
            Membahas penolakan terhadap lingkungan, individu merasa tertekan akibat lingkungan yang dianggapnya suci atau bahkan lingkungan yang dianggapnya anti kotor ternyata di luar ekspetasi individu tersebut, sehingga mulailah terjadi penolakan dengan melakukan serangkaian pemberontakan, menghujat, atau bahkan menghancurkan lingkungan tersebut. Efek kepada individual pun besar, lingkungan dapat menekan personal yang merasa tertekan. Sehingga timbullah depresi, kebingungan arah hidup, dan juga kebimbangan terhadap masa depan di lingkungan tersebut.
            Setelah paham bagaimana dendam dan penolakan terhadap diri sendiri, di sinilah fungsi dan letak pentingnya sebuah pengampunan. Ketika tadi telah membahas apa itu dendam, di sini dendam layaknya kotoran yang berat dan bau, di situlah kita melihat dendam dengan efeknya ketika dendam itu di simpan sehingga dapat menimbulkan efek bau. Efek bau yang dimaksud terlihat dari sikap inividu yang mendendam kepada orang yang dibencinya. Ambil Contoh ketika kita dendam dengan orang, kita merasa sinis dan risih ketika berada di dekat orang tersebut atau bahkan berniat membalas dendam tersebu dengan melakukan kekerasan.
            Ketika hal-hal negatif  pada efek dendam itu terjadi, maka dendam layaknya kanker yang merusak tubuh serta jiwa. Dampak kepada diri sendiri ketika kita mendendam dapat berupa sakit berkepanjangan, depresi atau bahkan gangguan kejiwaan. Tak jarang orang yang menyimpan dendam dalam hatinya dapat diganggu oleh roh-roh jahat, sehingga menimbulkan manifestasi karena kelanjutan dari dendam ialah akar pahit yang menyebabkan gangguan-gangguan roh. Karena roh jahat begitu senang datang dan berdiam dalam hati yang pendendam.
            Berbicara penolakan diri sendiri dan lingkungan seperti yang telah dijelaskan, efek yang benar-benar terasa tak jauh beda dengan dendam hati yaitu depresi. Namun yang berbeda dari dendam ialah merasa terkucil terhadap diri sendiri dengan lingkungan, terkucil artinya merasa rendah melihat diri sendiri. Efek kelanjutannya ialah kehilangan kendali diri karena merasa rendah sehingga datanglah si jahat untuk mengendalikan pikiran individu yang merasa ditolak.
            Begitu jelas terasa efek dan dampak dari dendam dan penolakan terhadap diri sendiri, sehingga pengampunan  merupakan sebuah penawaran menarik bagi setiap jiwa-jiwa yang mendendan dan menolak berkat.Tuhan. Pilihan mengampuni musuh/ lawan merupakan sebuah kemerdekaan hidup yang nyata, di sebut kemerdekaan karena dendam merupakan belenggu jiwa dari kebebasan merasakan cinta kasih Allah dari setiap orang, sehingga mengampuni merupakan pilihan perubahan bagi hidup yang terbelenggu kea rah yang lebih damai.
            Inti dari pengampunan ialah keterbukaan dan toleransi terhadap sikap yang membuat kta dendam dan benci. Ketika kita coba berlogika tentang orang yang pendendam, bagaimana orang yang mendendam dapat menjadi depresi karena benci terhadap orang yang dibencinya, sedangkan orang yang dibencinya tidak merasakan apa-apa atau bahkan orang yang dibencinya itu dapat bertumbuh dan berkembang. Jelas di posisi pendendam menambah satu lagi pelajaran bagaimana mendendam dapat menghambat pertumbuhan iman dan jiwa orang,
            Sebuah omong kosong belakang ketika seseorang berbicara “waktu dapat menyembuhkan dendam”.. Waktu tak dapat menyembuhkan pergumulan dendam bahkan ketika dibiarkan bersama sang waktu yang berputar, dendam itu akan diam namun bertumpuk dan larut sehingga memenuhi seluruh pikiran dan selanjutnya akan menjadi depresi dan gangguan kejiwaan. Butuh sebuah tindakan kerendahan diri atau bahkan kepasrahan akan pengampunan dan biarkanlah Tuhan coba memulihkan hati serta pikiran  sehingga kondisi akan kembali seperti semula.
            Berbicara mengampuni memang berat namun dalam (2 Korintus 2:10) “ Sebab barangsiapa yang kamu ampuni kesalahannya, aku mengampuninya juga. Sebab jika aku mengampuni, - seandainya ada yang harus kuampuni-, maka hal itu kubuat oleh karena kamu dihadapan Kristus, . Jelas meskipun sulit di sini Rasul Paulus mengajarkan mengmpuni karena kita semua berada di hadapan Kristus.
            Ketika diri merasakan penolakan yang benar-benar harus dilakukan ialah bersyukur, dalam (Kolose 3:15) “ Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan Bersyukurlah.”. Jelas ketika kita mencoba bersyukur diatas semua kekurangan dan terhadap tekanan diri sendiri di situlah Yesus dengan damai sejahtera bekerja dalam membuat rancangan terindah dalam setiap diri manusia asal setiap  manusia mencoba mensyukuri berkat Tuhan.
            Belajar dari Sebuah Pengampunan akan disimpulkan bagaimana Tips-tips Mengampuni:
1)      Libatkan Tuhan dalam setiap perencanaan, apapun itu termasuk meminta Tuhan membukakan pintu dendam agar kuasa Tuhan bekerja dalam menjalankan sebuah pengampunan.
2)      Daftarkan rasa dendam yang pernah melukai hati anda dan tuliskan pada sebuah kertas
3)      Ingat bagaimana perasaan anda saat emosi atau menyimpan dendam itu, sehingga akan kembali berpikir ke depan untuk menjadi lebih baik kea rah keterbukaan akan pengampunan.
4)      Ingat bakarlah/ buanglah daftar rasa dendam itu dan berjanji/ bertekad menjadi pengikut Kristus harus mencoba belajar mengampuni seperti layaknya Rasul Paulus ataupun Yesus sendiri

5)      Berdoa akan kesembuhan emosi, maksudnya minta Tuhan memulihkan hati yang hancur dan bersyukur atas semua keadaan sehingga timbullah pemikiran akan menjadikan pengikut Kristus merupakan pribadi yang mengampuni.

Minggu, 11 Oktober 2015

Mengendalikan Hawa Nafsu dalam Kristen

Mengendalikan Hawa Nafsu dalam Kristen
          Mengendalikan merupakan suatu tindakan membatasi atau menahan apapun yang ingin kita lakukan atau apapun yang ingin kita raih. Proses mengendalikan itu merupakan sesuatu langkah yang sulit bagi beberapa orang atau mungkin keseluruhan manusia karena akan menguras keinginan jasmaniah yang biasa atau baru akan kita coba serta lakukan. Dalam pandangan kristiani seseorang tidak akan mampu mengendalikan  sesuatu tanpa bantuan apa yang disebut Roh Kudus.
            Roh Kudus timbul dari iman serta perbuatan menurut ajaran kristus. Dalam (Roma 10:17) “Iman timbul dari pendengaran dan pedengaran oleh firman Kristus”. Jelas dari pandangan alkitabiah Roh Kudus datang dan hadir dalam setiap personal jiwa dari pendengaran akan firman Kristus. Kembali ke konteks mengendalikan jelas Kristen berpandangan bahwa setiap penganut serta pengikut Yesus wajib jika ingin mengendalikan apapun harus meminta bantuan Roh Kudus yang hadir dari Iman akan pendengaran Firman Tuhan.
            Nafsu merupakan sesuatu yang sudah ada dan tumbuh dalam setiap pribadi manusia,tanpa disadari nafsu itu telah ada sejak mengenal lingkungan sekitar. Dalam konteks kehdupan nafsu dapat digolongkan sebagai sesuatu yang mengarah ke hawa negatif, mengapa disebut mengarah ke negatif karena ketika seseorang di bawa oleh kenafsuan maka akan menjadi sebuah kelemahan yang akan membuat diri seseorang jatuh dan tidak berharga dalam konteks lingkungan masyarakat.
            Dalam pandangan  Kristiani nafsu diartikan juga kedagingan,artian kedagingan bahwa keinginan yang ada dalam diri masih menuruti keinginan daging atau duniawi. Dalam Kitab  (Galatia 5:19-21) 19 “Perbuatan daging telah nyata, yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, 20 ”penyembahan  berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, pencideraan, roh pemecah, 21 “kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya.”. Alkitab dalam pandangan Kristen telah  jelas tergambar bagamana kedagingan itu dengn berbagai bentuknya.
            Jika kita melihat konteks keduniawiaan dan lingkungannya, begitu banyak jelas tergambar bagaimana hawa nafsu mengundang setiap jiwa-jiwa yang lemah untuk hanyut dlam lingkaran kedagingan. Dalam dunia ini banyak orang-orang ataupun terkhusus pengikut Kristen sudah mulai mengarah ke dalam kedagingan, sebagai contoh dalam jemaat pun tekadang masih ada iri hati serta sombong iman yang tumbuh. Jelas ini merupakan panggilan negatih dari si jahat kedagingan.
            Di tambah lagi melihat perkembangan modernisasi dalam laju kehidupan global, kita sebagai manusia seahrusnya tidak lagi tutup mata terhadap keinginan-keinginan keduniawian dalam perkembangan pesat. Bahkan terburuknya banyak orang mulai melakukan hal-hal negatif justru untuk mencapai keinginan yang berbau hawa nafsu. Melihat hal tersebut butuh banyak gerakan ataupun pembinaan-pembinaa yang dilakukan setiap orang yang sadar ataupun umat beragama kepada buruknya kegagalan dalam hal mengendalikan hawa nafsu.
            Bagitu banyak akibat ataupun dampak ketika melihat hubungan antara hawa nafsu dengan keinginan duniawi, jika melihat masa sekarang kita tarik contoh: Hubungan sex bebas yang terjadi pada anak-anak dibawah umur Banyak sekali dampak kenikmatan sesaat melakukan hal negatif tersebut tekanan psikologis dari masyarakat, tersingkirnya masa depan yang diharapkan orantua ditambah lagi penyesalan yang timbul dari dalam pribadi yang berkecamuk sehingga dapat menjadi hal-hal negatif yang tidak diinginkan selanjutnya,
            Namun, banyak juga orang-orang yang berjuang mengendalikan hawa nafsu. Sampai-sampai stress bagaimana mengatasi kebingungan mengikut hawa nafsu dari ajakan lingkungn ataupun melawannya. Ini jelas menjadi sebuah perenungan di saat kita benar-benar ingin bangkit dan berubah dari keterpurukan masa lalu yang dibayangi hawa nafsu apapun itu, namun lingkungan sekitarnya tak mendukung tau bahkan memojokkan.
Jelas dalam konteks Kristani yang harus dilakukan merupakan ketetapan dan keteguhan keinginan yang harus tetap dijaga, meskipun orang disekitar memojokkan atau bahkan mem “bully” , namun disitulah letak perjuangan seorang kristiani, dari alkitab (Roma 8:35) “ Siapakay yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan, atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan, atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?”.
Benar-benar menakutkan menjadi seorang yang berjuang melawan nafsu, namun tak ada yang dapat memisahkan dengan kasih Kristus, apalagi teah dijanjikan akan mendapat kebahagaan dalam Kristus ketika menjadi sukses melawan nafsu kedagingan. Manjadi kewajiban kita setiap umat Kristiani saling topng-menopang ataupun tolong-menolong untuk saling medukung dan mengingatkan melawan hawa nafsu kedagingan.
Timbul suatu kesimpulan  bagaimana menaklukkan hawa nafsu kedagingan, dalam Kitab (Efesus 6:14-18) 14 “ jadi berdirlah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 “ kakimu berkasutkan kerelaan untuk emberitakan Injil damai sejahtera, 16 “ dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si Jahat, 17 “ dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, 18 dalam segala doa dan permohonan . Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus”

Sehingga benar-benar mengendalikan nafsu, sesuatu yang sulit namun asal berdasarkan firman dan iman yang semakin tumbuh dalam Tuhan menjadi hal yang mengasyikkan serta justru menjadi hal yang unik bagi tiap-tiap orang yang berhasil mengendalikan hawa nafsu. Jadilah pribadi yang unik dan berhasil bagi sekitar!!!

Jumat, 09 Oktober 2015

Agama dan Fungsi dalam Masyarakat

Agama dan Fungsi dalam Masyarakat
            Agama merupakan sebuah pengalaman atau experience konkret serta nyata yang menggambarkan unsur-unsur kejujuran dari agama itu sendiri melalui ajaran-ajaran atau doktrin agama itu sendiri, maupun melalui penganut atau pengikut suatu ajaran agama tertentu. Sedangkan masyarakat merupakan sekumpulan individu-individu yang berkumpul dalam satu wilayah atau lebih dan menjadi satu-kesatuan masyarakat.
            Ketika berbicara agama dalam lingkup masyarakat berarti berbicara bebagai agama yng berbeda dengan penganut serta pengikut-pengikut dengan karakter yang berbeda-beda pula. Di sinilah jelas dan nyata dituntut peran agama dalam memerankan 5 fungsi agama dalam masyarakat, fungsi tersebut ialah:
1)   Fungsi Edukatif: Agama dituntut memerankan fungsi pengajaran dan pembelajaran ke dalam lingkup masyarakat, Edukasi yang diberikan harus berupa pengajaran berdasarkan agama dan moral yang berlaku dalam agama serta masyarakat kepada penganut-penganut setiap agama tersebut.
2)   Fungsi Penyelamatan Sosial: Agama dijadikan sarana atau alat untuk mencapai “kebahagiaan akhir”. Pernyataan ini jelas bahwa agama ialah tempat yang nyaman dan tenteram di mana setiap personal ataupun jiwa mencari ketenangan akhir setelah merasa jenuh ataupun bosan menghadapi kenyataan dunia, Di sinilah agama bertindak menyelamatkan jiwa-jiwa melalui pengajaran-pengajaran yang disampaikan kepada setiap penganutnya.
3)   Fungsi Pengawasan Sosial: Pengawasan berarti layaknya pagar ataupun bambu pembatas yang membatasi sekaligus mengawasi setiap orang ataupun penganutnya yang melawati batas norma atau etika dalam masyarakat maupun aturan agama. Sehingga bukan hanya norma yang berlaku membina masayarakat, namun agama mampu berotoritas dalam memberi pengawaasan sekaligus pengajaran. Dalam konteks Kristiani, pembinaan bagi setiap penganut agama Kristen yang melanggar atau melewati batas etika kristiani ataupun aturan-aturn gereja disebut “Penggembalaan”, yang mana jemaat gereja yang melanggar aturan-aturan gereja akan digembalakan atau diajari dan diberikan pengertian bagaimana seharusnya menjadi seseorang Kristen yang sewajarnya dan mampu memberikan terang di tengah masyarakat.
4)   Fungsi Memupuk Persaudaraan: Memupuk artinya membina atau memberikan stimulusu, yang berarti agama mampu membina dan memberi stimulus atau vitamin kepada mayarakat agar membina hubungan persaudaraan satu sama lain. Perlunya saling menghargai dan saling mengasihi antar umat beragama. Disinilah agama seharusnya menjadi garis depan penyatu perbedaan dengan menggunakan metode-metode forum ataupun pertemuan yang didasari atas rasa kemanusiaan tanpa menghilangkan unsur keagamaan

5)   Fungsi Transformatif: Agama seharusnya menjadi pencerah atau penuntun perubahan ke dalam konteks sosial masyarakat, Artinya, kebiasaan ataupun kegiatan yang dilangsungkan secara turun temurun namun mengarah negative mampu secara bertahap dirubah berdasarkan konteks keagamaan, sehingga agama pembawa perubahan mampu benar-benar terasa dalam konteks masyarakat beragama.

Kamis, 01 Oktober 2015

Doa dalam Sudut Pandang Kristiani


Doa dalam Sudut Pandang Kristiani
           Doa dalam fungsi nyata dalam kehidupan manusia terkadang hanya dianggap sbagai semacam pelengkap dalam kehidupan dan juga hanya sebagai tempat pelarian ketika tidak mau menerima sebuaa kenyataan pahit. Lalu timbul pertanyaan siapa yang dapat kita temui dalam doa?. Timbul jawaban ialah Allah, jadi secara sistematis kita harus terlebih mengenal dulu siapa itu Allah  sebelum kita bertemu di dalam doa yang kita lantunkan.
           Doa dalam pandangan rohani merupakan berjuang bersama Tuhan, yang artinya berjuang ialah kita menyampaikan sesuatu dalam doa dan juga kita harus berjuang mewejudkannya sembari menunggu kuasa Tuhan untuk menggenapi atas usaha yang telah kita lakukan. Tidak ada doa kalau tidak dimulai dengan mengakui  Allah sebagai Allah, yang artinya kita berdoa bukanlah menganggap Tuhan Allah sebagai “teman sebaya” yang mana kita meminta seenaknya apa yang kita mau. Melainkan ketika menghadap Allah dalam doa harus benar-benar memposisikan Allah secara total di atas kehidupan manusia.
           Posisi doa dalam pandangan teologis ialah ditempatkan dalam lingkup luas teologi secara keseluruhan melalui sistematis dan benar-benar direfleksikan dalam ilmu teologi. Artian teologi merupakan refleksi iman, ketika doa harus diwujudkan dalam refleksi iman maka dikenal metode “dialog” dalam doa. Ketika perwujudan dialog diaplikasikan dalam doa, tidak menutup kemungkinan pernyataan ekspresi, sapaan, tawaran hubungan pribadi terjadi layaknya seperti dialog sehari-hari bersama Allah di dalam doa yang dinyatakan.
           Disinilah terletak sudut pandang kristiani bagaimana sebenarnya peran teologi/ Ilmu mengenai Allah menjelaskan dan menghubungkan tentang doa serta merefleksikannya dalam kehidupan manusia. Para teolog-teolog memiliki peran penting dalam menyumbangkan ilmunya, karena doa itu harus mulai dalam teologi dalam diri sendiri. Maksud dari teologi diri sendiri merupakan setiap individu-individu harus mampu membangun dan menyusun  mengenai Allah itu sendiri sebagai panutan dalam diri sendiri sehingga timbullah pemikiran-pemikiran tentang teologi yang didasarkan oleh sifat-sifat Allah.
           Maka, teologi tidak hanya merefleksikan  doa dan tidak hanya dikembangkan melalui doa. Ini menjelaskan doa dan teologi saling membutuhkan, karena tanpa doa, teologi hanya sebuah ilmu yang berpusat dengan filsafat dan ilmu agama, sedangkan tanpa teologi, doa hanya didasarkan kepuasan dan keinginan diri sendiri tanpa memikirkan tentang Allah itu sendiri.
           Namun, doa bukanlah teologi meskipun terjadi kait-mengait seperti yang telah dijabarkan, pokok yang dirasakan dalam doa itu sendiri ialah kehadiran Tuhan. Disinilah terletak peranan dan pemahaman teologi diperlukan, karena manusia tak akan mengerti dan merasakan kehadiran Tuhan  dan siapa yang hadir itu tanpa tahu siapa itu Allah yang hadir dan berkuasa dalam kehidupan manusia termasuk dalam doa-doa.
           Teologi juga menyumbangkan pemahaman akan karya Allah, sehingga dapat membantu merasakan kehadiran Roh  dengan lebih sadar.
           Kesimpulan yang dapat kita tarik dari sudut pandang kristiani ialah Doa merupakan satu kebutuhan pertanggungjawaban yang akan dibuktikan dengan kenyataan dalam hidup, seperti rutinitas doa,seperti dalam penjabaran tadi peranan pengetahuan dalam teologi unuk memahami siapa itu Allah dan bagaimana merasakan kehadiran Allah itu sendiri dalam doa. Diperlukan juga kedisiplinan iman setiap individu kristiani untuk tegh berpegang pada pengharapan akan Allah dalam doa, sehingga manfaat dan pengharapan yang diungkapkan dalam doa menjadi sutu kenyataan yang membahagiakan bagi setiap umat kristiani yang berharap..